Politik

Prabowo Tampilkan Kekuatan Indonesia di KTT BRICS 2023

Jakarta, Maret.id — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, kembali menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian negara. Ini dianggap memiliki pesan geopolitik yang lebih luas, melebihi sekadar ajakan untuk memperkuat kerja sama ekonomi.

Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik, memandang pernyataan Prabowo mengenai pemenuhan kebutuhan pangan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat sebagai fondasi utama bagi daya tawar Indonesia dalam percaturan global.

Menurut Amir, saat Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu, hal itu mencerminkan kesadaran strategis mengenai bahaya ketergantungan ekonomi yang dapat berujung pada ketergantungan politik dan memengaruhi kebijakan keamanan. “Kemandirian nasional bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kemampuan sebuah negara mengambil keputusan tanpa tekanan dari kekuatan eksternal,” tutur Amir.

Ia juga menekankan ketahanan pangan dan energi sebagai instrumen penting dalam menjaga kedaulatan. Negara yang bergantung pada pasokan luar akan lebih rentan terhadap tekanan dalam situasi konflik geopolitik atau krisis energi global. “Pangan dan energi itu bukan lagi sekadar komoditas ekonomi. Dalam geopolitik modern, keduanya adalah instrumen kekuatan,” imbuh Amir.

Kehadiran Indonesia di BRICS, menurutnya, merupakan bagian dari strategi untuk memperluas ruang gerak diplomasi. Indonesia tidak perlu terikat pada satu blok kekuatan tertentu, tetapi harus membangun hubungan dengan berbagai pusat kekuatan dunia sesuai kepentingan nasional. Amir berpendapat bahwa BRICS memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar dalam menghadapi perubahan konfigurasi kekuatan global.

“Dengan kerja sama ekonomi, terdapat perubahan arsitektur kekuatan dunia. Indonesia harus cerdas memainkan posisi, jangan sampai menjadi objek permainan negara-negara besar,” tegas Amir.

Ia juga menyoroti semakin kompleksnya persaingan kekuatan saat ini. Berbagai kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan India memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Dalam kondisi seperti ini, negara dengan fondasi domestik yang kuat akan memiliki lebih banyak pilihan kebijakan.

Pesan Prabowo mengenai “kekuatan yang bermula dari dalam negeri bersama rakyat” menjadi sangat strategis. “Kalau kebutuhan dasar rakyat kuat, industri nasional kuat, pangan aman, energi tersedia, dan sumber daya manusia berkualitas, maka negara memiliki ketahanan menghadapi tekanan dari luar. Ini yang disebut strategic resilience,” tutup Amir.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button