ESDM Optimalkan Potensi Investasi PLTB Setelah Mandek 4 Tahun

Jakarta, Maret.id — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong investasi dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) untuk melengkapi cadangan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), terutama pada musim kemarau saat produksi listrik dari air menurun.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa dalam empat tahun terakhir tidak ada investasi baru untuk PLTB. “Sampai saat ini, sampai empat tahun ke belakang itu, investasi PLTB belum ada. Padahal sangat bagus kalau kita panen angin di saat airnya surut,” tuturnya.
Menurut Eniya, potensi angin di Indonesia sangat besar, khususnya selama musim kemarau yang berlangsung sekitar empat bulan. “Angin di Indonesia dapat berhembus selama 24 jam ketika memasuki musim kemarau,” kata Eniya, menjelaskan dampak dari peningkatan suhu yang berkepanjangan terhadap kekuatan angin.
Kombinasi antara PLTB dan PLTA diakui Eniya sebagai solusi ideal dalam menjaga pasokan listrik saat aliran sungai menurun. “Ketika musim panas membuat aliran sungai cenderung surut, pembangkit berbasis angin dapat dimanfaatkan untuk menopang pasokan listrik,” imbuhnya.
Beberapa wilayah yang telah dipetakan memiliki potensi untuk pengembangan PLTB meliputi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku. ESDM juga sedang berupaya untuk mendukung pembiayaan energi bersih guna mempercepat pengembangan PLTB.
Eniya mengungkapkan, pihak Just Energy Transition Partnership (JETP) telah menawarkan pinjaman dengan skema very soft loan untuk proyek-proyek energi baru. “Kemarin saya didatangi oleh JETP, ya. Itu menawarkan pinjaman, very soft loan, gitu. Saya sih mengarahkannya untuk ke angin atau PLTS terapung,” tegasnya.
Dalam konteks sistem kelistrikan di Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyoroti penurunan daya mampu agregat dari pembangkit hidro yang drastis. “Daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW akibat kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino,” jelasnya.
Penurunan ini mencapai sekitar 600 MW, menjadikan penguatan sumber pembangkit alternatif sangat penting. Dalam jangka panjang, PLN berencana untuk memperkuat sistem Sulbagsel dengan pengembangan sekitar 5,2 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 8,2 gigawatt hour (GWh). Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden dalam program PLTS 100 gigawatt (GW).





