Sadarestuwati: Padi MSP 65 Solusi Swasembada Pangan DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Hasil panen padi MSP 65 atau GP 65 Bogor di lahan demplot Kabupaten Jombang melampaui harapan. Dari perkiraan awal yang hanya menghasilkan 4-5 ton per hektare, panen kali ini mencapai 12,54 ton per hektare.
Sadarestuwati, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menyatakan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan bahwa padi berumur genjah tidak selalu identik dengan produktivitas rendah. Ia menilai MSP 65 berpotensi menjadi solusi dalam mencapai swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Sadarestuwati saat panen raya padi GP 65 Bogor di Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, yang juga dihadiri oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo. “Saya juga sempat was-was karena deskripsinya itu produktivitasnya hanya 4 sekian sampai 5 ton,” tuturnya.
Sadarestuwati mengungkapkan kekhawatiran tersebut terjawab dengan hasil uji coba yang menunjukkan produktivitas hingga 12,54 ton per hektare. “Hari ini kita bisa membuktikan bahwa padi genjah itu tidak selamanya produktivitasnya rendah,” imbuhnya.
Ia memperkirakan bahwa produktivitas riil dari varietas tersebut bisa mencapai angka 10 ton per hektare. Oleh karena itu, Sadarestuwati menilai MSP 65 layak untuk terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif dalam mendukung ketahanan pangan. “Artinya apa, bahwa padi ini memang benar-benar layak dan ini bisa menjadi satu solusi ketahanan pangan di negeri tercinta Indonesia ini,” tegasnya.
Salah satu karakter yang menarik perhatian adalah umur panen MSP 65, yang dapat dipanen sekitar 65 hari setelah tanam. “Ini sebenarnya kemarin 65 hari sudah bisa dipanen, namun kami mundurkan untuk panen raya ini,” jelasnya.
Sadarestuwati menilai umur panen yang singkat menjadi keunggulan dalam pengembangan padi, terutama bila dikombinasikan dengan produktivitas tinggi. Ia juga mencatat perkembangan ukuran bulir padi MSP 65, yang awalnya kecil namun kemudian berkembang normal setelah ditanam di Jombang. “Hampir mirip dengan Ciherang,” katanya.
Dalam budidaya MSP 65, Sadarestuwati menerapkan sistem pengairan hemat melalui pipanisasi. “Ini cocok untuk ketika menanam pada musim kemarau dan hasilnya sangat bagus,” ujarnya. Proses budidaya dilakukan secara bertahap, mulai dari membalik tanah hingga pengolahan menggunakan rotary.
Meskipun hasil demplot menunjukkan produktivitas tinggi, benih MSP 65 masih dalam tahap pengembangan. Sadarestuwati menyatakan akan ada kerja sama dengan para petani untuk mengembangkan benih dari tahap dasar hingga benih pokok dan benih sebar. “Karena benih ini masih benih BD (benih dasar) yang harus kami kembangkan,” tambahnya.
Padi MSP 65 dikembangkan sebagai varietas padi berumur genjah yang bisa dipanen sekitar 65-67 hari setelah tanam. Sadarestuwati berharap hasil demplot di Jombang menjadi pijakan awal untuk membuktikan bahwa umur panen yang singkat tidak harus mengorbankan produktivitas. “Saya memprediksi bahwa ini paling dapatnya ya di bawah 7 ton, ternyata 12,54 ton,” pungkasnya.





