WMO Waspada: Cadangan Air Tawar Global Menyusut, Gletser Mencair Picu Krisis Pangan!

Jakarta, Maret.id — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa krisis air tawar global semakin memburuk dan membutuhkan perhatian serta aksi lintas negara. Laporan terbaru WMO tentang Kondisi Sumber Daya Air Global yang dirilis pada 17 September 2026 menempatkan 2025 sebagai salah satu periode terkering bagi banyak sungai di dunia dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
Temuan Utama Laporan
Laporan mencatat bahwa siklus air global menunjukkan pola yang makin tidak menentu dan sulit diprediksi, dengan variasi ekstrem dari kekeringan parah hingga curah hujan berlebih. Dalam tujuh tahun terakhir hanya 34 hingga 38 persen daerah aliran sungai berada dalam kondisi normal, turun dari rata-rata historis 46 persen untuk periode 1991–2020.
Cadangan air darat yang meliputi air tanah, danau, sungai, kelembapan tanah, serta es dan salju terus mengalami penyusutan sejak pertengahan 2010-an. Penyusutan ini menunjukkan tren penurunan ketersediaan air yang sistemik dan berpotensi mengganggu pasokan air bagi jutaan orang.
Kerugian dari Mencairnya Gletser
WMO mencatat gletser global kehilangan massa kumulatif sekitar 1.400 gigaton air antara 2023 dan 2025, angka yang setara dengan sepertiga dari penarikan air tawar tahunan global. Wayne Jenkinson, Direktur Hidrologi dan Kriosfer WMO, menyebutkan bahwa seluruh 19 wilayah gletser di dunia mengalami kehilangan es, termasuk wilayah Asia Tengah, Islandia, Arktik Rusia, Kanada bagian barat, dan Amerika Serikat.
Fenomena pelelehan es masif itu berkontribusi pada perubahan aliran sungai dan volatilitas ketersediaan air di kawasan hilir. Dampak ini tidak hanya bersifat lokal tetapi juga lintas batas, karena aliran air mengikuti kontur alam dan bukan batas politik.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Perpindahan antara banjir ekstrem dan kekeringan yang terjadi bergantian mendorong bencana beruntun dan memberi sedikit jeda untuk pemulihan. Dalam lima tahun terakhir, lembaga meteorologi dan hidrologi di berbagai negara melaporkan rekor banjir dan kekeringan yang saling bergantian, memperburuk kerentanan masyarakat dan infrastruktur.
Krisis air tawar juga berdampak pada sektor pertanian, kesehatan publik, dan ekonomi lokal, serta meningkatkan risiko konflik atas akses sumber daya air. Tekanan terhadap cadangan air tanah dan danau dapat mempercepat degradasi lingkungan dan mengurangi kapasitas tergenang untuk menahan banjir.
Seruan untuk Kolaborasi Internasional
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengibaratkan cadangan air tawar global sebagai “rekening tabungan darurat” yang kini sedang terkuras tanpa pengisian ulang yang memadai. Saulo menekankan bahwa kondisi ini menuntut data bersama, standar yang seragam, dan sistem peringatan dini bersama antarnegara.
WMO mengingatkan bahwa air tidak mengenal batas negara sehingga neraca air suatu daerah aliran sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi di negara hilir maupun hulu. Organisasi itu menyerukan peningkatan kerja sama regional dan internasional untuk memantau, mengelola, dan melindungi sumber daya air secara terpadu.
Langkah yang Diperlukan
Para ahli menyoroti kebutuhan mendesak akan investasi pada pemantauan hidrologi, teknologi konservasi air, dan kebijakan pengelolaan sumber daya yang adaptif. Penguatan sistem peringatan dini, pertukaran data real time, serta perencanaan manajemen risiko berbasis sains menjadi kunci untuk mengurangi dampak jangka panjang.
Tanpa tindakan kolektif dan koordinasi lintas batas, tren penyusutan cadangan air dan ketidakpastian iklim berpotensi memperburuk krisis air tawar global dalam beberapa dekade mendatang. Pemerintah, sektor swasta, dan komunitas internasional diimbau untuk menyusun strategi bersama yang mengedepankan keberlanjutan dan ketahanan sumber daya air.





