PBB Peringatkan: Target Akhiri Kelaparan Global 2030 Gagal, Harga Pangan Melejit!

Jakarta, Maret.id — Kepala Kantor Penghubung Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Rusia, Oleg Kobyakov, memperingatkan bahwa target penghapusan kelaparan global pada 2030 kini diperkirakan tidak akan tercapai.
Penilaian FAO
Kobyakov menilai bahwa meskipun ada kemajuan dalam upaya mengurangi skala kelaparan, laju perbaikan saat ini tidak cukup untuk memenuhi komitmen internasional yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB. “Dengan dinamika yang berjalan sekarang, target tersebut mustahil dicapai,” ujar Kobyakov, menggarisbawahi perlunya perubahan kebijakan yang cepat dan terkoordinasi.
Data yang dikemukakan menyebutkan bahwa jika tren saat ini berlanjut, diperkirakan sekitar 512 juta orang di seluruh dunia akan tetap mengalami kelaparan pada 2030. Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan tidak terjadi dengan kecepatan yang diperlukan untuk menghapuskan kelaparan dalam satu dekade mendatang.
Proyeksi dan cakupan dampak
Perkiraan itu belum memperhitungkan potensi dampak eskalasi konflik di beberapa kawasan, yang dapat memperburuk kerawanan pangan secara signifikan. Konflik, bersama dengan gangguan ekonomi dan tekanan iklim, cenderung memperpanjang dan memperdalam krisis pangan di daerah yang sudah rentan.
Selain konflik, faktor pemicu lain yang diperhatikan meliputi perubahan iklim, fluktuasi harga pangan global, gangguan rantai pasokan, dan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya. Kombinasi faktor-faktor ini membuat upaya penanggulangan kelaparan menjadi semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan multisektoral.
Tantangan kebijakan dan rekomendasi
Para ahli menyerukan peningkatan pendanaan untuk program ketahanan pangan, dukungan bagi petani skala kecil, serta kebijakan perdagangan yang mendukung ketersediaan dan keterjangkauan pangan. Percepatan investasi dalam sistem pertanian berkelanjutan dan teknologi adaptasi iklim dianggap krusial untuk meningkatkan produksi pangan di wilayah rawan.
Kebutuhan akan mekanisme perlindungan sosial yang kuat juga disorot, termasuk skema bantuan tunai dan program subsidi yang menargetkan kelompok paling rentan. Selain itu, pembukaan koridor kemanusiaan dan akses bantuan pangan di zona konflik menjadi langkah penting untuk mencegah krisis yang lebih luas.
Reaksi dan implikasi internasional
Pernyataan mengenai kelayakan target 2030 ini menimbulkan tekanan bagi komunitas internasional untuk menilai ulang strategi dan komitmen pendanaan yang ada. Bila tidak ada tindakan kolektif yang mempercepat perubahan, pencapaian tujuan global dalam mengatasi kelaparan berisiko gagal, dengan konsekuensi sosial dan ekonomi yang luas.
Forum multilateral dan pertemuan donor diminta untuk memprioritaskan isu pangan dan ketahanan dalam agenda mereka, serta memastikan koordinasi antar-lembaga untuk merespons situasi yang dinamis. Langkah-langkah yang diambil dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan apakah target ambisius tersebut bisa direbut kembali atau benar-benar mustahil dicapai.
Langkah ke depan
FAO bersama mitra internasional diperkirakan akan memperkuat pemantauan, memperbarui proyeksi, dan menyusun rekomendasi kebijakan yang lebih terfokus untuk mengatasi kendala utama. Pendekatan yang direkomendasikan mencakup penguatan data pangan, peningkatan kapasitas lokal, dan dukungan berkelanjutan bagi program-program ketahanan.
Di tingkat nasional, pemerintah diharapkan mengintegrasikan strategi ketahanan pangan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang, serta memperkuat koordinasi antar-sektor. Upaya ini harus dipadukan dengan langkah-langkah internasional untuk memastikan pasokan pangan tetap stabil, termasuk kerja sama perdagangan, bantuan teknis, dan respons kemanusiaan yang cepat.
Kesimpulannya, peringatan dari pejabat FAO tersebut menegaskan bahwa tanpa percepatan tindakan global dan kebijakan yang lebih proaktif, ambisi untuk mengakhiri kelaparan pada 2030 berada dalam risiko nyata. Komunitas internasional dihadapkan pada pilihan untuk meningkatkan komitmen dan sumber daya, atau menerima bahwa target penting ini tidak akan tercapai dalam kerangka waktu yang ditetapkan.





