PRABOWO KECEWA! HARGA SAWIT RI DIATUR OLEH NEGARA LAIN!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia merupakan pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Pernyataan ini disampaikan oleh Prabowo dalam raker paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Kontribusi Ekspor Minyak Kelapa Sawit
Prabowo mengungkapkan bahwa kontribusi dari ekspor minyak kelapa sawit sangat signifikan bagi perekonomian nasional. “Devisa dari ekspor minyak kelapa sawit mencapai 23 miliar dolar, setara dengan Rp391 triliun pada tahun 2025,” ujarnya.
Dalam paparan tersebut, Presiden Prabowo juga menyoroti kondisi pasar yang dianggapnya masih tidak wajar. Ia mengkritik kenyataan bahwa harga minyak kelapa sawit Indonesia justru ditentukan oleh negara lain, meskipun Indonesia adalah produsen utama.
Perjuangan Kedaulatan Harga
Menyusul pernyataan tersebut, Prabowo menjelaskan bahwa ia telah meminta kepada para menterinya untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia dalam menentukan harga komoditas strategis ini. “Saya mengatakan kepada menteri-menteri saya ini tidak boleh terjadi,” tegasnya di hadapan anggota DPR.
Pernyataan ini tidak hanya berbicara tentang harga, tetapi juga tentang kontrol Indonesia terhadap pasar global. Prabowo menginginkan Indonesia untuk memiliki lebih banyak kendali dalam penetapan harga kelapa sawit. “Saya tidak mau kelapa sawit kita harganya ditentukan oleh bangsa lain,” tambahnya.
Strategi Penjualan
Lebih lanjut, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak harus memaksakan penjualan kelapa sawit jika negara lain enggan menerima sesuai harga yang ditetapkan. “Kalau mereka tidak mau beli pakai harga kita, ya tidak usah beli. Kita pakai kelapa sawit kita sendiri,” jelasnya, menekankan pentingnya menjaga martabat dan kepentingan nasional.
Penegasan ini mencerminkan sikap proaktif pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan di pasar internasional. Pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya bergantung pada pasar luar negeri, tetapi juga menjaga potensi dan kekuatan dalam domestik.
Dengan langkah-langkah ini, Presiden Prabowo berharap bahwa ke depan, Indonesia dapat menentukan arah yang lebih baik bagi industri kelapa sawit, serta menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional dalam perdagangan internasional.





