Politik

Rupiah Terus Melemah Meski Sudah Ada Menkeu Baru

Jakarta, Maret.id — Rupiah kembali mengalami penurunan signifikan, hampir menembus level Rp17.900 per dolar AS. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan merosotnya indeks saham di pasar, setelah pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.

Ekonom Prof. Ferry Latuhihin menyatakan bahwa pergeseran dalam posisi Menteri Keuangan belum mampu memberikan dampak positif bagi sentimen pasar. “Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih meragukan langkah-langkah yang diambil,” tuturnya.

Ferry menilai, lemahnya rupiah bisa jadi berkaitan dengan berakhirnya masa jabatan Purbaya. Ia mencatat, selama menjabat, Purbaya diduga memberikan tekanan kepada Bank Indonesia untuk terus intervensi di pasar valuta asing. “Ada kemungkinan Purbaya memberi tekanan yang kuat kepada BI untuk menjaga nilai tukar,” tambahnya.

Ferry juga menggarisbawahi faktor eksternal yang berkontribusi pada pelemahan rupiah, seperti kebijakan suku bunga di Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitical di Timur Tengah. “Tensi ini semakin memperberat kondisi rupiah,” ujarnya.

Di sisi lain, tingginya harga minyak yang melampaui 100 dolar AS per barel menjadi tantangan tersendiri. “Kita masih mengimpor minyak cukup besar, sekitar 45 persen dari kebutuhan minyak kita masih bergantung pada impor,” tuturnya.

Ferry memperingatkan bahwa rupiah mungkin akan semakin tertekan hingga akhir tahun. “Level Rp20.000 per dolar AS bukan hal yang mustahil jika tekanan eksternal berlanjut,” tegasnya. Ia juga mengamati bahwa arus modal asing perlahan-lahan meninggalkan pasar Indonesia.

“Perlahan-lahan asing mulai kabur dari Indonesia,” kata Ferry. “Mereka tidak memiliki kepercayaan terhadap ekonomi kita.”

Lebih lanjut, pergantian Purbaya dengan Suahasil tampaknya tidak disambut baik oleh pasar. “Market itu merah terus,” sambungnya. Ferry berpendapat bahwa pasar tidak hanya menunggu pergantian nama di kursi Menteri Keuangan, tetapi menginginkan adanya perubahan kebijakan yang dapat memperkuat fundamental fiskal.

“Pasar tidak membedakan antara Purbaya dan Suahasil. Ketika ada pencanangan bahwa pergantian bukan berarti perubahan kebijakan, pasar menanggapinya negatif,” ungkapnya.

Dengan demikian, Ferry menekankan bahwa pasar kini menunggu keberanian Suahasil untuk mengevaluasi program-program pemerintah yang memerlukan anggaran besar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button