Dunia

Pemimpin Houthi Mengingatkan Turki dan Pakistan: Jangan Ikut Konflik Arab Saudi, Memanas!

Jakarta, Maret.id — Pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan Turki dan Pakistan agar tidak terlibat dalam konfrontasi yang semakin meningkat antara kelompoknya dan Arab Saudi.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan melalui saluran televisi al-Masirah yang dikelola Houthi dan menuduh Riyadh mencari dukungan militer dari kedua negara seiring meningkatnya ketegangan di wilayah Yaman dan sepanjang perbatasan Saudi–Yaman.

Peringatan kepada Turki dan Pakistan

Dalam pidatonya al-Houthi mendesak kedua negara tersebut untuk tidak terseret ke dalam konflik demi kepentingan politik atau ekonomi Arab Saudi.
Ia menekankan bahwa keterlibatan eksternal berpotensi memperluas perang dan menambah jumlah korban sipil di kawasan.

Tuduhan perekrutan pejuang Suriah

Al-Houthi menuduh Arab Saudi sedang berupaya membawa pejuang dari Suriah untuk dilibatkan dalam konflik Yaman, namun klaim itu disampaikan tanpa bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Hingga kini tuduhan tersebut belum menimbulkan tanggapan resmi dari Riyadh dan belum dapat dikonfirmasi oleh pemeriksa independen.

Seruan untuk deeskalasi dan mobilisasi Houthi

Mengenai kemungkinan deeskalasi, al-Houthi menyatakan bahwa kelompoknya tidak menuntut “syarat-syarat yang mustahil” dan kembali menyerukan penghentian operasi militer Arab Saudi serta berakhirnya apa yang disebut blokade terhadap Yaman.
Di saat yang sama, ia menyeru para pendukung Houthi untuk mempertahankan mobilisasi serta terus memperkuat kemampuan militer dan keamanan sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai ancaman dan agresi yang meningkat.

Esklasi di perbatasan dan serangan balasan

Peringatan pemimpin Houthi itu muncul ketika konfrontasi antara Houthi dan Arab Saudi semakin meluas melintasi perbatasan, ditandai dengan serangan udara Riyadh ke wilayah Yaman yang dibalas dengan serangan rudal dan drone Houthi jauh ke dalam wilayah Kerajaan.
Dalam pidatonya pada Senin, 21 September 2026, al-Houthi menyebut bahwa Arab Saudi telah melancarkan sekitar 760 serangan udara sejak eskalasi terbaru dimulai, angka yang sampai saat ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Arab Saudi, Turki, maupun Pakistan terkait peringatan dan tuduhan yang dilontarkan oleh pemimpin Houthi tersebut.
Ketegangan ini berlangsung setelah ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama di Makkah pada 7 Agustus, yang menetapkan bahwa setiap serangan terhadap salah satu negara penandatangan akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Para analis regional menilai perjanjian tersebut berpotensi meningkatkan risiko eskalasi apabila keterlibatan pihak luar meningkat, sehingga upaya diplomatik dianggap semakin penting untuk mencegah meluasnya konflik.
Sementara itu, diplomat dan organisasi kemanusiaan terus mengkhawatirkan dampak kemanusiaan dari perpanjangan konflik di Yaman, termasuk gangguan akses bantuan, meningkatnya pengungsian, dan memburuknya kondisi sipil di zona konflik.

Situasi tetap dinamis dan pengamat internasional menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta membuka jalur komunikasi guna meredakan ketegangan dan mencegah bentrokan yang lebih luas.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button