Iran Klaim Serang Armada AS, Memanas dan Mengganggu Ekspor Minyak Selat Hormuz!

Jakarta, Maret.id — Iran mengklaim telah menyerang sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal yang disebut membawa personel militer Amerika Serikat, sehingga menurut Teheran kapal-kapal AS bergerak mundur dari perairan dekat pantai Iran. Klaim ini muncul di tengah laporan media AS bahwa delapan marinir mengalami gangguan setelah diduga terpapar asap dan mengalami cedera otak traumatis akibat serangan rudal jelajah antikapal pada 14 September.
Klaim Serangan dan Pergerakan Kapal AS
Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan kapal-kapal perang AS menarik diri dari posisi yang sebelumnya dekat Pelabuhan Chabahar dan pintu masuk Teluk Oman. Laporan itu menyebut kapal-kapal AS kini berpindah ke wilayah tengah Laut Arab untuk menghindari ancaman rudal.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyinggung pergerakan kapal AS dalam pesan yang dipublikasikan media pemerintah pada Selasa (29/9/2026). “Setiap kali mereka mengambil risiko tersebut, mereka justru membawa kerugian bagi diri mereka sendiri,” demikian kutipan yang diberitakan media pemerintah.
Rekapan Insiden dan Pernyataan AS
Media AS melaporkan delapan marinir mengalami gangguan akibat menghirup asap dan diduga mengalami cedera otak traumatis setelah kapal mereka diserang. Namun, sejumlah pejabat AS yang dikutip mengatakan kapal yang menjadi sasaran bukan kapal perang Angkatan Laut AS.
Sebelumnya, CENTCOM menyatakan beberapa kapal AS berhasil menghindari serangan rudal balistik Iran pada awal September. Amerika Serikat sejauh ini mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan selatan Iran dan menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Korban Militer dan Data Penambahan Luka
Pentagon dilaporkan memasukkan 29 pelaut dan delapan marinir ke dalam daftar personel militer yang mengalami luka dalam konflik yang disebut dimulai sejak 28 Februari. Rekap Pentagon menunjukkan total personel AS yang tercatat sebagai korban luka mencapai 861 orang, dengan sedikitnya 19 kematian tercatat sejak perang berlangsung.
Insiden 14 September memicu perhatian lebih terhadap keselamatan kru kapal dan pasukan yang beroperasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Sumber militer AS secara internal memperingatkan kemungkinan dampak jangka panjang terhadap kesiapan operasi maritim.
Dampak pada Perdagangan Energi dan Arus Minyak
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak pada volume minyak yang melintas, dan sejumlah pejabat AS menyampaikan estimasi berbeda mengenai besaran aliran. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan hampir 13 juta barel minyak mentah per hari masih melewati Selat Hormuz, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent memperkirakan antara 15 juta hingga 22 juta barel per hari.
Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz diperkirakan rata-rata 7,4 juta barel per hari pada September. Dalam sepekan hingga 27 September, tercatat 19 kapal tanker melintasi selat tersebut, 17 di antaranya kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau VLCC.
Strategi Iran dan Analisis Ahli
Pakar hukum dan keamanan maritim Ian Ralby menilai serangan terhadap kapal kemungkinan akan tetap menjadi bagian dari strategi Iran. Menurut Ralby, serangan menggunakan rudal dan drone menjadi instrumen yang dapat dimanfaatkan oleh kekuatan militer yang relatif lebih lemah untuk memperoleh keuntungan strategis sekaligus mengganggu pasar global.
Ralby menilai pendekatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan upaya mempertahankan diri, tetapi juga mencerminkan ambisi strategis Iran di kawasan. Para analis memperingatkan bahwa jika tak ada langkah de-eskalasi, ancaman terhadap jalur pelayaran akan terus memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
Iran menyatakan siap melakukan tindakan militer defensif maupun ofensif jika dianggap perlu, sehingga ketegangan di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi perhatian internasional. Pihak-pihak terkait terus memantau perkembangan di lapangan seiring upaya diplomasi dan patroli maritim yang berlangsung.





