Dunia

Houthi Diduga Ubah Senjata Iran Jadi Rudal Jelajah, Memanas Rantai Pasok Minyak!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuduh kelompok Houthi memodifikasi sistem pertahanan udara buatan Iran menjadi rudal jelajah yang mampu beroperasi secara mandiri. Pemerintah setempat juga menuding perubahan teknis itu dilakukan dengan bantuan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan memperingatkan potensi ancaman terhadap penerbangan sipil di atas wilayah Yaman serta kawasan strategis Laut Merah.

Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik yang kembali meningkat antara Houthi dan pemerintahan Yaman yang diakui internasional, serta tumpang tindih serangan terhadap wilayah Arab Saudi. Keprihatinan muncul karena Laut Merah merupakan jalur pelayaran dan energi vital yang menghubungkan pasar internasional.

Tuduhan Modifikasi Senjata

Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Brigadir Jenderal Majed al-Nazili, menyatakan senjata yang digunakan Houthi dilengkapi sistem pelacakan panas. Menurut al-Nazili, rudal tersebut diklaim dapat beroperasi sekitar 25 menit dan mampu menyerang sumber panas tanpa membedakan apakah sasaran militer atau sipil.

“Kondisi ini merupakan ancaman langsung dan serius terhadap keselamatan penerbangan sipil serta nyawa penumpang,” ujar al-Nazili pada pengumuman yang dirilis pemerintah Yaman.

Eskalasi Serangan dan Dampak Regional

Tuduhan itu mengemuka bersamaan dengan peningkatan serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Riyadh menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke wilayah Taif dan kawasan Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang “target sensitif” di Riyadh serta fasilitas milik Saudi Aramco di Yanbu, dan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan dilakukan dengan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone).

Laut Merah dan Jalur Energi Strategis

Situasi di Laut Merah menjadi lebih genting karena perairan ini berfungsi sebagai jalur alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi ketika Selat Hormuz mengalami gangguan pada masa lalu. Arab Saudi memiliki jaringan pipa East-West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di timur dengan Pelabuhan Yanbu di pantai barat, sehingga setiap gangguan di kawasan barat dapat berdampak pada pasokan energi global.

Jaringan pipa tersebut sempat terganggu setelah serangan drone beberapa waktu lalu, dan pada Juli, Houthi sempat menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah yang semakin menambah tekanan terhadap keamanan pelayaran regional.

Kekhawatiran terhadap Penerbangan Sipil dan Penilaian Ahli

Al-Nazili memperingatkan bahwa kemampuan senjata yang dituduhkan berasal dari Iran tidak hanya mengancam pesawat militer. Pesawat PBB dan organisasi kemanusiaan yang melintas di atas Yaman juga berpotensi terdampak menurut pernyataan resmi pemerintah Yaman.

Pemerintah Yaman mendesak otoritas internasional untuk merespons dan mengambil langkah guna mengatasi ancaman yang dinilai dapat mengganggu jalur penerbangan sipil di bagian selatan Laut Merah. Namun klaim bahwa Houthi telah memodifikasi sistem pertahanan udara Iran menjadi rudal jelajah belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh pihak ketiga.

Eleonora Ardemagni, peneliti senior di Italian Institute for International Political Studies, menyatakan belum ditemukan bukti konklusif yang mendukung klaim modifikasi tersebut, meskipun sejumlah perkembangan teknis dan pola serangan menimbulkan kecurigaan. Ia menekankan perlunya verifikasi forensik dan intelijen yang lebih komprehensif sebelum menyimpulkan asal-usul perubahan sistem senjata.

Perkembangan kemampuan persenjataan Houthi menjadi sorotan karena konflik berlangsung di kawasan yang memuat jalur pelayaran dan infrastruktur energi strategis. Ancaman terhadap penerbangan sipil serta aktivitas maritim di Laut Merah berpotensi memperluas dampak konflik Yaman ke wilayah yang lebih luas dan berdampak pada stabilitas pasokan energi dan keselamatan navigasi internasional.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button