Dunia

Populasi lansia Jepang Melejit, tekan ekonomi dan ancam stabilitas regional!

Jakarta, Maret.id — Jepang melaporkan lonjakan proporsi penduduk lansia yang kini mencapai rekor tertinggi, sementara total jumlah penduduk terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil Sensus 2025

Berdasarkan finalisasi sensus 2025 yang dirilis pada akhir September 2026, total populasi Jepang, termasuk warga asing, tercatat sekitar 122,97 juta jiwa per 1 Oktober 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 3,17 juta jiwa atau sekitar 2,5 persen dibandingkan data sensus 2020.

Penuaan Penduduk Mencapai Rekor

Proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas tercatat sebesar 29,4 persen dari total populasi, angka tertinggi dalam sejarah pencatatan demografi negara tersebut. Fenomena penuaan yang cepat ini memperkuat tekanan terhadap sistem pensiun, layanan kesehatan, dan kebutuhan tenaga kerja produktif di Jepang.

Distribusi gender menunjukkan terdapat sekitar 59,77 juta laki-laki dan sekitar 63,20 juta perempuan, memperlihatkan selisih jumlah yang konsisten sejak beberapa dekade terakhir. Perbedaan ini juga berdampak pada komposisi rumah tangga dan kebutuhan layanan sosial yang semakin beragam.

Ketimpangan Wilayah: Tokyo Menonjol

Di antara 47 prefektur, Tokyo menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat pertumbuhan populasi dibanding sensus 2020, dengan kenaikan sekitar 189.000 jiwa. Pertumbuhan di ibu kota mencerminkan arus urbanisasi yang berkelanjutan, sementara banyak daerah lain menghadapi penyusutan populasi dan penurunan jumlah generasi muda.

Sensus yang pertama kali dilakukan pada 1920 dan dilaksanakan setiap lima tahun memperlihatkan tren penurunan populasi pada tiga sensus berturut-turut sejak pencatatan penurunan pertama pada 2015. Tren ini menandai perubahan struktural yang memerlukan respons kebijakan jangka panjang di tingkat nasional dan daerah.

Dampak demografis ini sudah dirasakan pada sektor ketenagakerjaan, di mana kekurangan tenaga kerja produktif menekan laju pertumbuhan ekonomi dan menuntut adaptasi teknologi. Sektor kesehatan dan perawatan lansia juga mengalami peningkatan beban biaya dan kebutuhan layanan yang lebih luas serta berkualitas.

Beberapa langkah kebijakan yang dibahas mencakup peningkatan dukungan keluarga dan insentif kelahiran, reformasi pasar tenaga kerja untuk mendorong partisipasi perempuan dan pekerja lanjut usia, serta kebijakan imigrasi yang lebih terarah untuk menutup kesenjangan tenaga kerja. Selain itu, percepatan digitalisasi dan otomasi menjadi sorotan sebagai upaya mempertahankan produktivitas meski jumlah tenaga kerja menurun.

Fenomena demografis Jepang dianggap sebagai gambaran masa depan yang mulai menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, seiring perubahan pola kelahiran dan harapan hidup. Kondisi ini mendorong perlunya perencanaan kebijakan demografis yang proaktif agar dampak ekonomi dan sosial dapat diminimalkan.

Analisis para pengamat menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, serta masyarakat sipil untuk merancang solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Tanpa langkah terkoordinasi, tekanan demografis diperkirakan akan semakin memperlebar ketimpangan antarwilayah dan memperberat beban anggaran sosial di masa mendatang.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button