Mesir Pertahankan Hak Air Sungai Nil, Memanas Ketegangan Regional dan Pasokan Pangan!

Jakarta, Maret.id — Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan pada Senin (5/10/2026) bahwa Mesir akan mempertahankan haknya atas air Sungai Nil dengan segala upaya yang sah menurut hukum internasional.
Pidato pada peringatan Perang Oktober
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang menandai peringatan 53 tahun Perang Oktober 1973 antara Mesir dan Israel.
Dalam kesempatan tersebut al-Sisi menggambarkan Sungai Nil sebagai “urat nadi kehidupan Mesir” dan landasan keberadaan negara itu selama ribuan tahun.
Hak sejarah dan posisi hukum
Presiden al-Sisi menegaskan bahwa porsi air Mesir merupakan hak hukum yang bersifat historis dan tidak dapat dinegosiasikan.
Ia menambahkan bahwa hak itu tidak boleh dikompromikan maupun dilanggar oleh tindakan pihak manapun.
Ancaman terhadap keamanan air
Pernyataan al-Sisi juga menegaskan bahwa Mesir tidak akan menoleransi setiap bentuk ancaman terhadap keamanan airnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang berkelanjutan di Kairo mengenai pasokan air bagi populasi dan sektor pertanian nasional.
Sengketa Bendungan Hidase (GERD)
Isu ini kembali menyoroti sengketa antara Mesir, Sudan, dan Ethiopia terkait Bendungan Hidase Ethiopia atau Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) yang diresmikan pada September 2025.
Ethiopia menyatakan bahwa bendungan dimaksudkan untuk menghasilkan listrik dan mendorong pembangunan, sementara Mesir dan Sudan mengkhawatirkan dampaknya terhadap aliran air hilir.
Seruan untuk perjanjian yang mengikat
Kairo bersama Khartoum telah lama menyerukan adanya perjanjian yang bersifat mengikat mengenai mekanisme pengisian dan pengoperasian bendungan tersebut.
Permintaan ini bertujuan untuk memastikan ketentuan teknis dan hukum yang mengatur aliran air agar terhindar dari gangguan pasokan di masa mendatang.
Diplomasi dan opsi hukum
Para pihak terkait sejauh ini menempuh jalur diplomasi dan perundingan bilateral serta multilateral untuk meredakan ketegangan.
Namun, pernyataan terbaru dari al-Sisi menunjukkan kesiapan Mesir untuk mempertahankan haknya melalui saluran hukum internasional jika diperlukan.
Isu Palestina dalam pidato
Selain masalah air, al-Sisi menegaskan kembali bahwa pembentukan Negara Palestina yang merdeka sesuai resolusi internasional tetap merupakan jalan utama untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Kepemimpinan Mesir terus mendorong solusi dua negara yang diakui secara internasional sebagai dasar stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Reaksi regional dan implikasi
Pernyataan keras dari Kairo diperkirakan akan memicu respons diplomatik dari semua pihak yang berkepentingan di sepanjang lembah Sungai Nil.
Langkah selanjutnya di tingkat regional kemungkinan melibatkan upaya mediasi oleh organisasi internasional dan negara-negara tetangga untuk mencegah eskalasi.
Penutup
Isu pengelolaan air Sungai Nil tetap menjadi ujian bagi stabilitas politik dan kerja sama regional di Afrika Timur dan Utara.
Dengan tekanan demografis dan kebutuhan pembangunan yang meningkat, dialog yang konstruktif dan perjanjian yang jelas menjadi kunci untuk menghindari konflik sumber daya di masa depan.





