Houthi Gempur Bandara King Khalid, Membatalkan 40 Penerbangan dan Memanas Kawasan!

Jakarta, Maret.id — Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal Houthi pada Kamis malam, 8 Oktober 2026, dalam serangan kedua yang terjadi pada hari yang sama.
Klaim Serangan dan Tuntutan Houthi
Jubir Houthi, Yahya Saree, menyatakan pihaknya menembakkan dua rudal jelajah ke arah Bandara King Khalid dan juga menargetkan Bandara Abha serta Pangkalan Udara King Khalid dengan rudal balistik. Saree mengklaim serangan “tepat sasaran” dan menyebabkan gangguan pada operasional bandara serta kerusakan fasilitas.
Respon Koalisi Saudi
Pemerintah Saudi belum mengeluarkan pengakuan resmi atas klaim tersebut, namun kepala koalisi militer Saudi, Turki al-Maliki, menyatakan bahwa sebagian rudal berhasil dicegat sebelum mencapai target di Riyadh dan pangkalan udara. Pernyataan koalisi menegaskan adanya upaya pertahanan udara yang aktif selama insiden berlangsung.
Bukti Visual dan Verifikasi
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan kepulan asap tebal di landasan bandara dan gambar-gambar yang memperlihatkan pesawat yang tampak rusak parah di area parkir. Foto dan video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sehingga kebenaran detail dampak material masih dalam pemeriksaan.
Houthi juga menyebut sudah mengeluarkan peringatan terakhir kepada maskapai internasional agar menghindari wilayah udara Arab Saudi, yang menurut kelompok itu telah menjadi arena operasi militer. Peringatan semacam ini memicu kekhawatiran luas terkait keselamatan penerbangan sipil di wilayah tersebut.
Dampak pada Jadwal Penerbangan
Akibat serangan dan kekhawatiran keamanan, sekitar 40 persen penerbangan masuk dan keluar Riyadh dibatalkan pada hari yang sama, dengan hampir dua lusin maskapai menangguhkan atau membatalkan rute ke ibu kota Saudi. Maskapai besar seperti Air India dan Lufthansa mengumumkan penangguhan keberangkatan ke Riyadh hingga minggu berikutnya sebagai langkah antisipatif.
Pembatalan tersebut berdampak pada arus penumpang dan logistik, serta menimbulkan gangguan operasional di bandara-bandara regional yang tergantung pada konektivitas ke Riyadh. Maskapai dan otoritas penerbangan terus memantau situasi dan mengeluarkan advis penerbangan sesuai perkembangan keamanan.
Implikasi Regional dan Keamanan Maritim
Serangkaian serangan Houthi terhadap target di wilayah Saudi memiliki implikasi lebih luas bagi stabilitas kawasan, terutama mengingat peningkatan aktivitas militer di sepanjang jalur Laut Merah dan selat Bab el-Mandeb. Gangguan di rute penerbangan dan pelayaran dapat memperburuk biaya logistik global dan memicu respons diplomatik dari negara-negara yang berkepentingan.
Beberapa negara dan operator internasional diperkirakan akan memperketat rute dan meningkatkan langkah-langkah mitigasi risiko saat melintasi ruang udara dan perairan yang dianggap rawan konflik. Dampak jangka menengah akan bergantung pada eskalasi atau meredanya serangan serta langkah de-eskalasi politik.
Konteks Konflik yang Lebih Luas
Konfrontasi antara Saudi dan Houthi berakar pada perang yang melanda Yaman sejak 2015, meskipun sempat mereda oleh gencatan senjata pada 2022; ketegangan kembali meningkat pada Juli 2026 setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan di Sanaa. Aksi balasan dan operasi udara yang terus berlangsung telah memicu gelombang serangan lintas perbatasan.
Pada September 2026, Houthi dilaporkan meraih keuntungan teritorial signifikan dengan merebut Mocha dan posisi strategis di sepanjang pesisir Laut Merah serta sekitar Bab el-Mandeb, yang memperumit upaya stabilisasi kawasan dan meningkatkan risiko serangan terhadap jalur transportasi internasional.
Situasi di kawasan ini terus dipantau oleh komunitas internasional mengingat potensi dampak terhadap keselamatan penerbangan sipil dan perdagangan maritim, sementara berbagai pihak mendesak langkah-langkah diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.





