50.000 perempuan tewas dan terluka memanaskan krisis kemanusiaan dan ekonomi regional!

Jakarta, Maret.id — UN Women melaporkan hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza tewas atau mengalami cedera parah sejak dimulainya kekerasan pada Oktober 2023. Angka ini menghimpun lebih dari 38.000 kematian dan sekitar 11.700 orang lainnya yang mengalami cedera berat sehingga hidup dengan disabilitas seumur hidup.
Korban Jiwa dan Jenis Cedera
Sebagian besar korban tercatat terjadi dalam dua tahun pertama konflik, meskipun laporan mencatat kekerasan masih berlanjut meski adanya gencatan senjata sejak Oktober tahun lalu. Dalam periode gencatan senjata tersebut, tercatat 277 perempuan dan anak perempuan tewas, yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan kelompok rentan belum sepenuhnya mereda.
Pengungsian dan Kondisi Kemanusiaan
Hampir satu juta perempuan dan anak perempuan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik, dan hampir semuanya masih berada dalam status pengungsian. Banyak dari mereka kini tinggal di tenda atau di antara reruntuhan rumah, menghadapi kondisi menetap yang rentan dan minim akses terhadap kebutuhan dasar.
Perubahan Struktur Rumah Tangga
UN Women mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah rumah tangga yang dikepalai perempuan, dengan peningkatan dua kali lipat sehingga kini satu dari empat rumah tangga di Gaza dipimpin oleh perempuan. Perubahan ini mencerminkan beban ekonomi dan sosial yang semakin berat ditanggung perempuan akibat kehilangan anggota keluarga atau terganggunya mata pencaharian.
Tekanan Terhadap Organisasi Perempuan
Pemangkasan dana telah melemahkan kapasitas organisasi perempuan di wilayah terdampak, sehingga layanan dan program yang sebelumnya mendukung komunitas kini berkurang drastis. Dari 14 organisasi yang disurvei, 13 melaporkan mereka tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat di lapangan.
Kekerasan Berbasis Gender dan Dampak Sosial
Seluruh organisasi yang disurvei melaporkan peningkatan kekerasan berbasis gender, kemiskinan, dan gangguan kesehatan mental sejak 2025, sementara 13 organisasi menyatakan adanya lonjakan pernikahan anak. Dampak tersebut memperdalam kerentanan perempuan dan anak perempuan serta mengancam upaya perlindungan jangka panjang.
Seruan untuk Tindakan dan Akuntabilitas
UN Women mendesak implementasi penuh gencatan senjata, kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, dan pertanggungjawaban atas pelanggaran yang terjadi. Organisasi itu juga menekankan pentingnya pemulihan dana dan dukungan langsung kepada layanan perlindungan perempuan agar kemampuan respon dapat dihidupkan kembali.
Sofia Calltorp, Kepala Aksi Kemanusiaan UN Women, menggambarkan temuan tersebut sebagai bukti penderitaan kolektif yang luar biasa dan rasa sakit yang seharusnya tidak perlu ditanggung oleh perempuan mana pun. Dia menegaskan bahwa tingkat ketangguhan dan kekuatan yang ditunjukkan para perempuan di Gaza tidak boleh dijadikan alasan untuk menormalisasi penderitaan yang bisa dicegah.
Analisis situasi juga menunjukkan kebutuhan mendesak untuk layanan kesehatan reproduksi, dukungan psikososial, serta program perlindungan yang ditujukan untuk perempuan kepala rumah tangga dan anak perempuan. Tanpa dukungan berkelanjutan dan akses yang lebih aman, risiko jangka panjang terhadap kesejahteraan fisik dan mental generasi muda semakin meningkat.
Peringatan UN Women ini datang ketika perhatian internasional kembali ditujukan pada kondisi kemanusiaan di Gaza, dengan seruan agar donor dan badan internasional meningkatkan koordinasi serta memastikan akses bantuan yang tidak terhambat. Para pakar kemanusiaan menekankan bahwa langkah-langkah preventif dan pemulihan harus berjalan beriringan untuk menutup celah layanan yang kini menganga bagi perempuan dan anak perempuan.





