Ekspor mobil Korea Selatan turun, pasar Asia anjlok 60 persen!

Jakarta, Maret.id — Ekspor otomotif Korea Selatan pada September 2026 tercatat melemah, terutama disebabkan turunnya permintaan dari kawasan Asia dan Timur Tengah meskipun ada peningkatan pengiriman ke pasar barat. Kondisi ini menandai dinamika permintaan global yang semakin beragam antar wilayah.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan yang dirilis Senin (19/10/2026), nilai ekspor mobil pada September mencapai USD 6,05 miliar. Angka tersebut menunjukkan penurunan 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Performa Pasar Utama Berbeda-Beda
Pengiriman kendaraan ke Amerika Utara justru meningkat 9,2 persen menjadi USD 3,07 miliar, sementara ekspor ke Uni Eropa melonjak 15,3 persen menjadi USD 1,11 miliar. Peningkatan di kedua pasar ini menunjukkan adanya permintaan kuat untuk model-model tertentu dan strategi penjualan yang lebih agresif oleh pabrikan Korea di wilayah tersebut.
Sebaliknya, wilayah Asia mencatat penurunan paling tajam dengan nilai ekspor anjlok 60 persen menjadi USD 329 juta. Pengiriman ke Timur Tengah juga turun 7,1 persen menjadi USD 354 juta, sehingga menekan kinerja agregat ekspor otomotif Negeri Ginseng.
Kendaraan Ramah Lingkungan Tetap Menjadi Penopang
Di tengah pelemahan agregat, kendaraan ramah lingkungan menunjukkan ketahanan dan bahkan pertumbuhan, dengan nilai ekspor naik 5,9 persen menjadi USD 2,89 miliar. Kategori ini meliputi mobil listrik baterai, kendaraan berbasis sel bahan bakar, hibrida, serta hibrida plug-in yang terus diminati oleh pasar global.
Dari sisi volume, jumlah kendaraan yang dikirim ke luar negeri justru meningkat, dengan 237.443 unit diekspor pada September atau naik 4,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun sektor suku cadang masih mengalami tekanan karena nilai ekspor komponen kendaraan turun 7,2 persen menjadi USD 1,77 miliar.
Produksi Lokal Meningkat, Penjualan Dalam Negeri Lesu
Produksi kendaraan di pabrik-pabrik dalam negeri dilaporkan naik menjadi 346.618 unit pada September, meningkat 3,7 persen secara tahunan. Peningkatan produksi ini didorong oleh intensifikasi operasi pabrik oleh produsen lokal setelah penyelesaian negosiasi upah tahunan dengan karyawan.
Sementara itu, penjualan domestik justru menurun signifikan, tercatat sebanyak 135.396 unit atau turun 14,3 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah hari kerja menyusul pergeseran libur Chuseok dari Oktober tahun lalu menjadi September tahun ini.
Analisis industri menunjukkan bahwa penguatan permintaan di Amerika Utara dan Eropa mencerminkan pergeseran strategi eksportir ke pasar dengan margin penjualan lebih tinggi. Di sisi lain, koreksi tajam di pasar Asia kemungkinan terkait faktor musiman, kompetisi harga, dan kondisi ekonomi regional yang bervariasi.
Kinerja positif segmen kendaraan ramah lingkungan dinilai sebagai sinyal era transisi yang berlanjut bagi produsen otomotif Korea Selatan. Para pembuat mobil besar diperkirakan akan terus mengalokasikan investasi untuk pengembangan model listrik dan infrastruktur produksi terkait guna mempertahankan momentum.
Namun, tekanan pada ekspor suku cadang menggarisbawahi kerentanan rantai pasok dan perusahaan pemasok komponen menengah-ke-kecil. Penurunan nilai ekspor komponen berpotensi memicu konsolidasi industri dan permintaan penyesuaian strategi bisnis bagi pemasok yang sangat bergantung pada pasar ekspor.
Pemerintah Korea Selatan melalui Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi diharapkan terus memantau pergeseran permintaan global dan memberikan dukungan kebijakan yang memitigasi dampak siklus permintaan. Langkah koordinasi dengan sektor industri, termasuk insentif untuk elektrifikasi kendaraan dan penguatan rantai pasok, dinilai penting untuk menjaga daya saing.
Bagi produsen otomotif, situasi saat ini menuntut keseimbangan antara mempertahankan pangsa pasar di wilayah tradisional dan mempercepat inovasi produk. Diversifikasi pasar dan fokus pada segmen nilai tambah tinggi, seperti kendaraan ramah lingkungan, menjadi strategi yang semakin krusial.
Secara keseluruhan, data September 2026 menunjukkan gambaran yang bercampur bagi industri otomotif Korea Selatan: ada penurunan nilai ekspor secara agregat, tetapi terdapat penguatan di pasar strategis dan segmen masa depan yang berpotensi menopang pertumbuhan jangka panjang. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pemulihan permintaan di Asia, stabilitas pasar Timur Tengah, dan keberlanjutan tren kendaraan ramah lingkungan di pasar global.





