Proyektil Houthi Hantam Permukiman Arab Saudi Selatan, 6 Tewas, Memanas Ketegangan!

Jakarta, Maret.id — Enam warga Arab Saudi terluka dan tiga rumah serta tiga kendaraan dilaporkan rusak setelah sebuah proyektil yang diluncurkan oleh kelompok Houthi dari Yaman menghantam area permukiman di Najran, wilayah selatan Arab Saudi, pada Minggu (18/10/2026) waktu setempat, kata Pertahanan Sipil Arab Saudi. Tim darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban dan menanggulangi kerusakan, sementara otoritas setempat menegaskan bahwa upaya menargetkan objek sipil merupakan pelanggaran jelas terhadap hukum humaniter internasional.
Serangan di Najran
Insiden di Najran terjadi di kawasan padat hunian yang selama ini acap menjadi sasaran dalam eskalasi serangan lintas perbatasan antara Houthi dan pasukan Arab Saudi. Kerusakan pada rumah dan kendaraan menambah kekhawatiran atas meningkatnya risiko bagi warga sipil yang berada jauh dari garis depan konflik.
Klaim Korban di Yaman
Sementara itu, stasiun televisi yang dikelola kelompok Houthi melaporkan bahwa sebanyak 10 orang tewas dan 23 lainnya terluka dalam dugaan serangan udara Arab Saudi pada sebuah rumah di Provinsi Saada, Yaman utara, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum ada komentar resmi dari pihak Arab Saudi maupun koalisi militer yang dipimpinnya.
Reaksi Dewan Kerja Sama Teluk
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Albudaiwi, menyerukan tindakan internasional yang efektif untuk menghentikan serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Dalam pertemuan Dewan Menteri GCC di Manama, Bahrain, Albudaiwi menekankan bahwa penargetan berkelanjutan terhadap bandara, fasilitas sipil, dan infrastruktur energi menuntut respons internasional guna mencegah ancaman lebih lanjut terhadap keamanan dan stabilitas kawasan.
Perkembangan ini terjadi di tengah aksi saling serang yang terus berlangsung antara Houthi dan Arab Saudi, negara yang menjadi sekutu utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Konflik berkepanjangan itu telah memicu krisis kemanusiaan dan menimbulkan dampak luas bagi keamanan regional serta arus energi dan perdagangan maritim.
Latar Belakang Konflik
Yaman terjatuh ke dalam perang sejak akhir 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut, memaksa pemerintahan yang diakui internasional mencari dukungan eksternal. Pada 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan intervensi militer dengan tujuan mengembalikan kendali pemerintah yang diakui internasional, namun perang sipil yang berkepanjangan terus memperburuk kondisi kemanusiaan.
Peningkatan serangan lintas perbatasan dan respons militer menimbulkan kecemasan diplomatik, dengan negara-negara tetangga dan organisasi internasional yang berulang kali menyerukan penghentian kekerasan. Para pengamat menilai bahwa tanpa langkah-langkah diplomatik yang nyata dan akses kemanusiaan yang luas, eskalasi serangan terhadap sasaran sipil dan infrastruktur strategis berpotensi memperdalam ketidakstabilan regional.
Kasus terbaru di Najran memperlihatkan rentannya masyarakat sipil dalam konflik berskala lebih luas dan menegaskan perlunya mekanisme perlindungan warga serta investigasi independen terhadap klaim pelanggaran hukum humaniter. Semua pihak di kawasan diimbau menahan diri dan memberi prioritas pada upaya perdamaian untuk mengurangi korban sipil dan memulihkan kondisi kemanusiaan di Yaman.





