Politik

Said Abdullah: Kekeringan dan Karhutla Jadi Ancaman Serius DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, mengingatkan pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur selama musim kemarau.

Menurut Said, masalah kekeringan dan karhutla tidak boleh dianggap sebagai kejadian musiman yang ditangani setelah masyarakat kesulitan atau ketika api sudah membakar hutan. “Kita prihatin melihat saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi krisis air, sementara pada saat yang sama kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan,” tutur Said.

Said menegaskan perlunya penerapan tindakan nyata sebelum puncak musim kemarau dengan memanfaatkan data daerah rawan kekeringan dan karhutla yang telah dimiliki pemerintah. “Data tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan sebelum memasuki puncak musim kemarau,” imbuhnya.

Pemerintah perlu memetakan sumber air, membangun embung dan sumur dalam, serta menyiapkan sistem peringatan dini sesuai tingkat kerawanan masing-masing wilayah. “Kalau setiap tahun desa yang mengalami kekeringan relatif sama, persoalannya sebenarnya sudah bisa dipetakan,” tegas Said.

Said juga mencatat bahwa dampak kebakaran hutan melampaui hilangnya vegetasi. Kebakaran dapat merusak habitat satwa dan mengganggu sumber mata air. “Karhutla dan kekeringan saling berhubungan. Hutan adalah penyangga kehidupan dan daerah tangkapan air,” kata Said.

Ia mengingatkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, tentang peran kader partai dalam menjaga lingkungan. “Pesan Ibu Megawati jelas, kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Artinya ketika alam terluka, kader tidak boleh hanya melihat,” jelasnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Said melaporkan bahwa kader PDI Perjuangan telah aktif membantu masyarakat menghadapi kekeringan dan karhutla di berbagai wilayah. Di Bojonegoro, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Abidin Fikri, telah menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik terdampak kekeringan.

Distribusi air bersih juga dilakukan di Gresik dan sejumlah daerah lainnya seperti Nganjuk, Tuban, dan Banyuwangi. “Kekuatan PDI Perjuangan ada pada struktur yang sampai ke desa,” kata Said.

Dalam penanganan karhutla, PDI Perjuangan juga membantu logistik petugas dan relawan di lokasi kebakaran. “Kita harus belajar dari lapangan. Jika setiap musim kemarau kita kembali membawa tangki ke desa yang sama, berarti ada persoalan yang belum diselesaikan,” tegas Said.

Said meminta pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali peta kerawanan kekeringan dan mempertimbangkan alokasi APBD untuk mitigasi. “Anggaran seharusnya diarahkan untuk mengurangi risiko sebelum bencana terjadi,” ujarnya.

Mitigasi juga perlu menyentuh sektor pertanian. Kekeringan dapat mengancam produksi pangan ketika irigasi tidak memadai. “Pemetaan lahan rawan, ketersediaan pompa, dan pengelolaan irigasi perlu disiapkan lebih awal,” imbuhnya.

Terakhir, Said menekankan pentingnya pemulihan kawasan hutan pascakebakaran dan memastikan masyarakat terdampak mendapatkan akses air kembali. “Menolong manusia dan merawat alam berasal dari tanggung jawab yang sama: menjaga kehidupan,” kata Said.

Ia menegaskan, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur akan terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadapi dampak musim kemarau. “Ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa banyak tangki yang dikirim, tetapi seberapa sedikit desa yang mengalami krisis air setiap tahun,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button