Tiyo Ardianto Dilarang Diskusi di Unnes! Eks Ketua BEM UGM Sebut Dicekal Birokrat Kampus karena Paranoia!

Jakarta, Maret.id — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah lalu, Tiyo Ardianto, menghadapi situasi yang tidak mengenakkan dalam aktifitas akademiknya. Tiyo mengungkapkan bahwa ia dilarang untuk menghadiri dan berdiskusi di Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang dinilai sebagai tindakan represif oleh birokrat kampus.
Tiyo mengeluhkan bahwa meskipun panitia sudah jauh-jauh hari menjadwalkan acara diskusi tersebut, ia mendapatkan larangan untuk berpartisipasi. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di media sosial, Tiyo menyatakan, “Saya dilarang diskusi karena paranoia birokrasi.” Tindakan ini, menurutnya, sangat bertentangan dengan semangat pendidikan yang seharusnya mengedepankan kebebasan berpendapat.
Menanggapi Pembungkaman Suara
Dalam pernyataannya, Tiyo menekankan bahwa universitas seharusnya menjadi tempat di mana kebebasan berpendapat dapat berkembang. “Jiwa merdeka dan nurani jernih manusia seharusnya menjadi denyut nadi kehidupan kampus,” ungkap Tiyo. Ia berpendapat, jika ada pembungkaman hak untuk berbicara di lingkungan akademis, maka kampus seharusnya menjadi pelopor dalam membela hak tersebut, bukan sebaliknya.
Larangan yang diterimanya berkaitan dengan statusnya yang tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM. Tiyo mengecam alasan tersebut, menyebutnya tidak masuk akal dan cenderung diskriminatif. “Tidak sepatutnya suara warga kampus dibungkam berdasarkan status jabatan, karena berbicara tentang penderitaan rakyat memerlukan hati yang bersih dan kemauan untuk belajar,” tegasnya.
Pergeseran Etika Akademis
Tiyo mengingatkan bahwa banyak individu yang menduduki jabatan tinggi justru bungkam saat rakyat mengalami penindasan. Ia menyatakan bahwa alasan yang mengaitkan hak berbicara dengan jabatan formal adalah bentuk pelecehan terhadap hak asasi manusia. “Setiap individu berhak untuk berbicara, tidak peduli statusnya,” katanya.
Tindakan tersebut mencerminkan pergeseran dalam etika akademis, di mana aturan birokrasi sering kali lebih diutamakan dibandingkan kebebasan akademik. Tiyo berharap agar kampus dapat menjadi tempat yang lebih kondusif untuk beragam suara dan gagasan, serta mendorong diskusi yang sehat dan terbuka.
Pesan untuk Rekan-rekannya
Tiyo juga menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada panitia acara yang tetap berkomitmen dalam menciptakan ruang bagi diskusi di kampus. Ia mengajak rekan-rekannya di Unnes untuk tetap teguh menghadapi tekanan dan tidak takut berbicara. “Kita tidak berhenti, justru semakin berani,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa meskipun ada upaya untuk membungkam, gagasan dan kebenaran akan selalu menemukan jalannya. “Tekanan adalah energi paling manjur bagi perlawanan,” ujar Tiyo. Dalam suratnya yang ditujukan kepada rekan-rekannya, ia menekankan pentingnya keberanian dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran di tengah tantangan yang ada.
Dengan kejadian ini, diharapkan ada refleksi lebih mendalam bagi semua pihak mengenai pentingnya kebebasan akademik serta hak berbicara di lingkungan pendidikan. Kegiatan akademis seharusnya tidak hanya menjadi ajang diskusi ilmiah, melainkan juga sarana untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental.





