Gaya Hidup

Menbud Fadli bilang Empu Keris masih keren!

Jakarta, Maret.id — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti eksistensi profesi empu pembuat keris yang dinilai masih mampu bertahan dan berkembang di tengah arus modernisasi budaya Nusantara. Pernyataan itu disampaikan usai Peringatan Hari Keris Nasional 2026 yang digelar di Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur, Sabtu malam.

Keberagaman Empu di Berbagai Wilayah

Fadli Zon mencatat para empu berasal dari beragam daerah seperti Madura, Jawa, Lombok, Bali, Sulawesi, dan Sumatera. Ia menilai keberagaman geografis ini menunjukkan daya tarik keris yang masih kuat di masyarakat lintas wilayah.

Permintaan Pasar Mendorong Produksi

Menurut Menbud, tingginya permintaan pasar menjadi faktor utama keberlangsungan profesi empu, khususnya untuk keris kontemporer. Ia menyebut karya-karya empu masa kini tidak hanya laku di dalam negeri tetapi juga mulai dipasarkan ke luar negeri, termasuk negara tetangga dan pasar Eropa.

Ekspor dan Jangkauan Internasional

Fadli Zon mengatakan ekspor keris Indonesia ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia, tercatat mencapai ribuan unit setiap tahun. Perkembangan pasar luar negeri ini dinilai dapat membuka peluang baru bagi perajin dan mendorong pengakuan internasional terhadap warisan budaya perkerisan.

Generasi Muda Pelestari Tradisi

Salah satu empu muda yang tampil dalam diskusi adalah Achmad Fulan Mufiddin, pemuda 26 tahun asal Malang yang memilih menekuni perkerisan. Ia menceritakan minatnya tumbuh sejak usia delapan tahun dan kemudian memutuskan belajar di besalen K.R.T. Arum Fanani Notopuro pada 2023 untuk mempertahankan tradisi tersebut.

Tantangan Profesi Empu di Era Modern

Achmad menilai menjadi empu di era modern menuntut ketekunan, kesabaran, dan pemahaman nilai budaya yang mendalam sehingga profesi ini semakin langka. Ia berharap keberadaan empu di daerah seperti Malang Raya tetap terjaga dan tidak hanya menjadi cerita sejarah bagi generasi mendatang.

Peran Pemerintah dan Komunitas

Dalam peringatan tersebut hadir pula unsur kementerian dan organisasi kebudayaan yang menunjukkan perhatian terhadap pelestarian perkerisan. Kehadiran pejabat seperti Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi serta Direktur Jenderal Pengembangan dan Pembinaan Kebudayaan menegaskan perlunya dukungan kebijakan dan pembinaan bagi para empu.

Makna Filosofis Keris

Para empu dan pelestari menegaskan bahwa keris lebih dari sekadar pusaka atau senjata tradisional, melainkan mengandung makna filosofis terkait doa, harapan, dan nilai-nilai kehidupan. Harapan bersama adalah agar nilai-nilai tersebut terus disosialisasikan sehingga keris tetap dihargai sebagai bagian hidup dan identitas budaya Indonesia.

Fadli Zon mengharapkan perkembangan pasar dan perhatian institusi dapat berkontribusi pada keberlangsungan profesi empu serta penguatan pelestarian budaya perkerisan di tingkat nasional dan internasional. Para pelaku budaya berharap inisiatif pembinaan, pendidikan, dan promosi dapat menarik lebih banyak generasi muda untuk meneruskan warisan ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button