Memanas: Kemlu Tegaskan Korea Selatan Mitra, KF

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa Korea Selatan tetap menjadi salah satu mitra strategis utama dalam kebijakan luar negeri di kawasan Indo-Pasifik.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri, Dr. Santo Darmosumarto, menyampaikan pandangan tersebut saat menjadi narasumber pada kegiatan sosialisasi Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS). Ia menilai hubungan bilateral telah berkembang melampaui dimensi ekonomi menjadi kemitraan strategis yang komprehensif.
Hubungan Strategis RI-Korsel
Santo menekankan Korea Selatan bukan sekadar mitra ekonomi tetapi telah menjadi special strategic partner bagi Indonesia dengan dasar hubungan historis yang kuat. Ia menyebut kerja sama meliputi investasi, perdagangan, pembelajaran demokrasi dan tata kelola, serta kolaborasi teknis dalam pembangunan infrastruktur termasuk transfer pengetahuan tentang ibu kota baru.
Proyek pengembangan pesawat tempur bersama KF-21 Boramae menjadi salah satu simbol konkret kemitraan kedua negara. Menurut Santo, kolaborasi ini strategis untuk mendorong kemandirian industri pertahanan Indonesia namun juga harus ditempatkan dalam kerangka integrasi yang lebih luas.
Peran dalam Arsitektur Indo-Pasifik
Dalam lanskap geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif, Santo melihat Indonesia dan Korea Selatan sebagai negara-negara middle power yang memiliki peran penting menjaga keseimbangan kawasan. Ia mengingatkan konsep kerja sama trilateral KIA yang pernah mencakup Korea, Indonesia, dan Australia sebagai contoh koordinasi negara menengah yang memiliki perspektif serupa terkait stabilitas regional.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul belakangan ini disebut Santo sebagai bagian dari diplomasi ekonomi dan strategis yang berkelanjutan. Kunjungan itu menurutnya memberikan sinyal bahwa Korea Selatan tetap menjadi prioritas dalam agenda investasi, industrialisasi, dan kerja sama pertahanan Indonesia.
Integrasi Sistem Pertahanan
Santo menyoroti bahwa Indonesia juga mengembangkan kerja sama pertahanan dengan negara lain seperti Prancis, Turki, dan Tiongkok sehingga tantangan utamanya adalah integrasi. Fokus utama menurutnya bukan semata menambah jumlah mitra, melainkan memastikan berbagai kerja sama tersebut dapat membentuk sistem pertahanan nasional yang terintegrasi dan berfungsi secara keseluruhan.
Pengembangan industri pertahanan nasional harus diikuti oleh kebijakan interoperabilitas dan standarisasi yang jelas agar teknologi dan peralatan dari berbagai sumber dapat saling melengkapi. Hal ini penting untuk menghadirkan kapasitas pertahanan yang efektif dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Lomba Menulis ISDS dan Diplomasi Publik
Santo juga menilai penyelenggaraan lomba menulis strategis memiliki relevansi besar di era informasi digital yang cepat dan penuh tantangan. Ia menekankan peran kreativitas intelektual manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta pentingnya pemikiran non-linear yang kerap melahirkan terobosan strategis.
Sebagai contoh, Santo mengutip bagaimana konsep nuclear deterrence pada awalnya tampak paradoksal namun berkembang menjadi salah satu mekanisme pencegah konflik besar antarnegara. Dari sudut itu, lomba menulis bukan sekadar kompetisi akademik, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas pemikiran strategis nasional.
CEO dan Co-Founder ISDS, Dwi Sasongko, mengatakan lomba menulis ini merupakan bagian dari pendekatan diplomasi publik yang relevan di era hubungan internasional modern. Dwi menekankan bahwa penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan memerlukan keterlibatan masyarakat melalui jalur people-to-people engagement agar gagasan publik turut berkontribusi terhadap kebijakan nasional.
Penyelenggara membuka kompetisi bagi masyarakat usia di atas 17 tahun dan periode lomba berjalan sejak 17 April hingga 7 Juni 2026. Informasi pendaftaran dapat diakses melalui tautan https://bit.ly/Lomba-RI-Korsel dan pengumuman 18 pemenang dijadwalkan pada pertengahan Juni 2026.
Santo menutup keterangannya dengan menggarisbawahi pentingnya membangun literasi strategis di kalangan publik agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen informasi. Ia berharap inisiatif seperti lomba menulis mampu mendorong analisis kritis, produksi gagasan kebijakan, serta perspektif inovatif mengenai posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.





