Politik

Jokowi Keliling Indonesia untuk Memastikan Tak Dilupakan Rakyat!

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kembali aktif berkunjung ke berbagai daerah memicu tanggapan sinis di kalangan publik. Efriza berpendapat bahwa manuver tersebut bukan semata-mata karena rindu akan interaksi dengan masyarakat, melainkan merupakan usaha Jokowi untuk mencari panggung politik baru setelah masa jabatannya berakhir.

Pembelaan Relawan Pro Jokowi

Efriza mencatat bahwa organisasi relawan Pro Jokowi (Projo) memberikan pembelaan terkait agenda kunjungan tersebut. Mereka mengklaim bahwa kegiatan ini semata-mata dilaksanakan atas undangan masyarakat dan tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik elektoral atau masa depan anak-anak Jokowi. Namun, pandangan Efriza menyebut pengakuan itu sebagai sebuah pernyataan naif.

“Bahasa diundang oleh rakyat itu istilah yang ditengarai tak bisa bernilai benar. Jokowi merencanakan keliling Indonesia adalah langkah kebutuhan,” ujar Efriza saat berbicara dengan media, pada Minggu, 24 Mei 2026.

Kekhawatiran di Lingkaran Dalam

Menurut Efriza, terdapat kekhawatiran yang mendalam di kalangan pendukung Jokowi, termasuk dalam partai yang dibentuk dan lingkar dekat keluarganya. Mereka menyadari bahwa tanpa aktifitas politik yang intens, keberadaan mereka di kancah politik nasional akan semakin meredup.

Asumsi ini semakin diperkuat dengan situasi Gibran Rakabuming Raka, yang merupakan penerus kepemimpinan Jokowi di panggung eksekutif. Kinerja Gibran terlihat kurang mengesankan dan sering menjadi sasaran kritik publik. “Bisa dimaknai Gibran tak lagi bernilai tanpa sepak terjang Jokowi. Apalagi, banyak kasus hukum berpotensi merebak dan menyeret nama Jokowi maupun orang-orang terdekatnya,” ungkap Efriza.

Citra Bobby Nasution dan Masa Depan Dinasti Jokowi

Lebih lanjut, Efriza juga mengomentari kemampuan politik menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Kontribusi politik Bobby dinilai kurang menonjol dan tidak mengangkat citra keluarga Jokowi secara signifikan.

Apabila Jokowi memilih untuk berdiam diri di Solo, masa depan politik dinasti yang telah dibangunnya bisa terancam surut. Hal ini juga berlaku untuk nasib Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang saat ini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep. “Karier politik dari keluarga Jokowi lainnya akan mandek seperti Bobby Nasution, dan karier politik para pendukungnya lambat laun menyusut drastis. Bahkan, PSI elektabilitasnya akan sulit terdongkrak,” tutup Efriza.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button