Kim Jong Un Ingin Gunakan AI di Persenjataan Korut, Memanas Ketegangan Global!

Jakarta, Maret.id — Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menyerukan pemanfaatan kecerdasan buatan dan otomatisasi yang lebih luas dalam sistem persenjataan ofensif dan defensif serta meminta percepatan peningkatan kapasitas produksi industri pertahanan nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian kunjungan ke beberapa fasilitas manufaktur pertahanan yang berlangsung pada 16 hingga 18 September 2026.
Kunjungan itu dilakukan didampingi sejumlah pejabat senior dan sang saudara perempuan yang berpengaruh, Kim Yo-jong, menurut laporan visual yang disebarluaskan media pemerintah Korea Utara. Foto-foto resmi menunjukkan Kim meninjau pabrik yang memproduksi drone serta berbagai sistem artileri berat.
Kunjungan ke Pabrik Artileri dan Drone
Dalam kunjungan tersebut, delegasi tampak memperhatikan fasilitas produksi roket dan sistem peluncuran, termasuk unit peluncur roket ganda kaliber besar 600 mm. Sistem itu, yang disebut KN-25 di luar Korea Utara, dipaparkan sebagai komponen modern dalam upaya memperkuat kemampuan tembakan jangka pendek dan menengah.
Beberapa pengamat menilai KN-25 memiliki kesamaan fungsi dengan sistem HIMARS namun telah berevolusi menjadi peluncur dengan jangkauan dan kapasitas berbeda. Kunjungan juga menegaskan fokus Pyongyang pada pengembangan drone sebagai bagian dari artileri modern dan sistem pengintaian.
Tekanan pada Otomatisasi dan AI
Kim menekankan bahwa artileri harus memiliki kemampuan ofensif yang sangat terkonsentrasi, merusak, masif dan serbaguna demi dua misi utama yakni pencegahan dan pertempuran. Pernyataan itu sekaligus menandai dorongan resmi bagi integrasi teknologi digital, termasuk algoritma kecerdasan buatan, ke dalam sistem senjata dan proses produksi.
Petunjuk untuk mempercepat otomatisasi juga mencakup arahan agar pabrik-pabrik meningkatkan output, memperbaiki kondisi produksi, dan mengoptimalkan lingkungan kerja guna mencapai target-target strategis. Perintah tersebut dinilai sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk mempertahankan kesiapan militer dan kemandirian industri pertahanan.
Modernisasi Persenjataan dan Dampak Regional
Sebelum program senjata nuklirnya berkembang, Korea Utara mengandalkan kekuatan artileri luas sebagai komponen utama strategi pencegahannya, terutama karena ibu kota Korea Selatan, Seoul, berada dalam jangkauan artileri arsitektur lama. Upaya modernisasi saat ini menunjukkan kombinasi antara peningkatan akurasi, jangkauan, dan kemampuan multi-peran yang berpotensi memperkuat kapasitas pencegahan Pyongyang.
Beberapa sistem roket dan rudal yang dikembangkan dapat berfungsi ganda sebagai wahana pengiriman hulu ledak, sehingga modernisasi artileri turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara tetangga dan komunitas internasional. Analis keamanan regional mencatat bahwa integrasi AI dan otomatisasi ke dalam persenjataan dapat mengubah dinamika ancaman di Semenanjung Korea dan meningkatkan tekanan diplomatik.
Kim juga dilaporkan menyatakan kepuasan atas capaian banyak pabrik yang memenuhi target produksi untuk rencana strategis pihak militer. Arahan terbaru ini dipandang sebagai sinyal bahwa Pyongyang akan terus mengintensifkan upaya modernisasi dan ekspansi kapasitas pertahanan di masa mendatang.





