Dunia

Masoud Pezeshkian Sebut 3 Syarat AS, Memanas Ketegangan dan Tekan Pasar Energi!

Jakarta, Maret.id — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya akan memprioritaskan perlindungan kepentingan nasional dan menerapkan prinsip kehati-hatian tinggi dalam setiap negosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan ketika Pezeshkian menerima kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, di Teheran pada Sabtu (23/5/2026).

Prioritaskan Kepentingan Nasional

Pezeshkian menyebut bahwa publik Iran memiliki rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Washington akibat rekam jejak pelanggaran komitmen. Ia menyinggung serangkaian tindakan yang menurutnya termasuk serangan yang terjadi di tengah proses perundingan dan pembunuhan tertarget terhadap sejumlah pejabat Iran.

Pezeshkian mengatakan Iran akan bergerak hati-hati dan hanya menempuh jalur negosiasi yang melindungi hak hukum serta kepentingan sah bangsa. Ia menegaskan bahwa segala keputusan akan diambil berdasarkan kepentingan nasional dan pengalaman sejarah negosiasi dengan pihak-pihak internasional.

Seruan untuk Menjaga Stabilitas dan Menolak Perang

Presiden Iran mengingatkan bahwa konfrontasi bersenjata tidak menguntungkan pihak manapun dan hanya membawa kerugian bagi stabilitas kawasan serta dunia. Pernyataan ini menjadi penekanan utama saat Teheran menjajaki opsi diplomatik pasca-escalation.

Jenderal Asim Munir, yang tiba di Teheran sejak Jumat malam, menegaskan komitmen Pakistan untuk menjaga stabilitas regional dan mendukung proses meja perundingan. Munir menyambut baik perkembangan dialog yang berlangsung dan berharap kerja sama tersebut menghasilkan hasil positif bagi Iran dan negara tetangga.

Syarat Iran untuk Melanjutkan Negosiasi

Sumber internal yang dekat dengan tim negosiasi Teheran menggarisbawahi bahwa dialog damai berisiko buntu jika Washington mempertahankan sikap kaku. Iran menetapkan tiga poin utama yang harus dipenuhi pada tahap awal perundingan agar proses dapat berlanjut secara bermakna.

Pertama, Iran menegaskan bahwa isu program nuklirnya tidak akan dibahas dalam fase perundingan saat ini. Kedua, Teheran menuntut pencairan penuh seluruh aset Iran yang dibekukan oleh Amerika Serikat sebelum negosiasi resmi dimajukan.

Ketiga, Iran bersikeras mempertahankan kendali dan pengelolaan penuh atas jalur laut strategis Selat Hormuz sebagai bagian dari tuntutan keamanan maritimnya. Sumber itu menegaskan bahwa tidak akan ada ruang untuk perundingan lanjutan apabila ketiga isu sensitif tersebut tidak dipenuhi oleh pihak AS.

Latar Belakang Konflik dan Peran Pakistan

Hubungan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas setelah terjadi serangkaian serangan militer yang memuncak pada insiden akhir Februari, yang kemudian diikuti oleh gencatan senjata pada 8 April. Pihak-pihak yang terlibat sempat terlibat pertempuran selama sekitar 40 hari sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai.

Setelah gencatan senjata, delegasi Iran dan AS menggelar perundingan perdana di Islamabad pada 11–12 April namun pertemuan itu berakhir buntu. Sejak saat itu, kedua belah pihak dilaporkan terus bertukar draf proposal yang merinci syarat untuk mengakhiri konflik secara permanen, dengan Pakistan berperan sebagai mediator utama.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button