Teguh Santosa: Perang Selat Hormuz Jadi Strategi Terakhir Trump dan Netanyahu untuk Menang Pemilu!

Jakarta, Maret.id — Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel baru-baru ini dianggap sebagai strategi politik yang mengandung perhitungan berisiko tinggi. Direktor Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, mengungkapkan bahwa agresi ini mencerminkan desperate move dari Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan posisi kekuasaan mereka yang terancam.
Kedua pemimpin tersebut saat ini menghadapi level popularitas yang merosot drastis di negara masing-masing. Menjelang Pemilu Sela AS pada November 2026 dan pemilihan awal di Israel yang dipercepat pada Oktober 2026, tekanan politik terhadap Trump dan Netanyahu semakin meningkat. Dalam analisisnya, Teguh menyoroti bahwa “Keduanya merasa bahwa cara paling efektif untuk menyelamatkan diri dan partai dalam pemilu adalah dengan membuktikan bahwa mereka benar dalam memerangi Iran, dan bahwa perang itu akan berujung pada kemenangan.”
Ketidakpuasan Terhadap Kebijakan Luar Negeri
Di pihak Amerika Serikat, posisi politik Trump terguncang parah. Survei terbaru dari Emerson College Polling menunjukkan bahwa 53 persen pemilih AS menilai aksi militer terhadap Iran sebagai kegagalan yang signifikan. Dengan kondisi tersebut, Partai Demokrat kini unggul 10 poin dalam berbagai jajak pendapat menjelang Pemilu Sela.
Situasi di AS semakin pelik dengan Senat yang telah meloloskan resolusi untuk membatasi kekuasaan Trump dalam melancarkan aksinya tanpa persetujuan dari kongres. Dalam konteks yang sama, Netanyahu juga menghadapi tantangan berat. Jajak pendapat pada Mei 2026 menunjukkan bahwa 55 persen warga Israel meminta Netanyahu untuk segera mundur dari jabatannya. Koalisinya di Knesset diperkirakan akan kehilangan status mayoritasnya.
Alasan di Balik Agresi Militer
Teguh Santosa menilai bahwa narasi perang dijadikan alat untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah domestik yang mendalam, seperti krisis ekonomi. “Mereka mempertaruhkan stabilitas regional demi ambisi politik pribadi,” jelas Teguh.
Ketika kebijakan ekonomi tidak berhasil dan tingkat kepercayaan publik menurun, penciptaan krisis di luar negeri sering kali menjadi pilihan bagi pemimpin yang terdesak. Namun, strategi ini memiliki risiko yang sangat tinggi. Jika serangan di Selat Hormuz gagal, baik Trump maupun Netanyahu berpotensi menghadapi konsekuensi politik yang parah.
Persaingan Koalisi Oposisi
Bagi Trump, kegagalan dalam melakukan serangan terhadap Iran akan memberikan senjata bagi partai oposisi untuk menyerang kembali kebijakan luar negeri pemerintah. Di sisi lainnya, Netanyahu menghadapi tantangan dari kubu oposisi Israel yang semakin bersatu, di bawah kepemimpinan Yair Lapid dan Naftali Bennett. Kekuatan gabungan ini berpotensi menumbangkan rezimnya.
Hingga kini, situasi di Selat Hormuz tetap dalam status tegang. Ambisi kedua pemimpin ini untuk meningkatkan popularitas melalui jalur perang masih jauh dari tercapai, sementara waktu menuju pemilu terus berjalan. Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat AS dan Israel mulai bertanya-tanya tentang implikasi dari kebijakan luar negeri yang agresif ini untuk masa depan stabilitas regional.





