Serangan Tersembunyi di Medsos Ancam Prabowo dan Stabilitas Politik!

Jakarta, Maret.id — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengungkapkan bahwa serangan yang muncul di platform-platform digital seperti Facebook, X (Twitter), YouTube, Instagram, dan Threads terlihat dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Menurut Amir, dalam konteks intelijen modern, perang opini di ruang digital telah berkembang dari sekadar perdebatan biasa antarpendukung politik.
Operasi Delegitimasi Terhadap Kekuasaan
Amir menegaskan bahwa serangan yang terus-menerus, disertai dengan narasi yang seragam dan waktu pelaksanaan yang hampir bersamaan, dapat dikategorikan sebagai operasi delegitimasi terhadap kekuasaan politik. “Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo,” kata Amir Hamzah saat diwawancarai, Kamis 28 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa indikasi adanya operasi digital terstruktur dapat dilihat dari munculnya isu-isu yang sama secara simultan di banyak platform dalam waktu yang berdekatan. Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh akun-akun anonim, influencer politik, video pendek, meme, dan komentar-komentar yang membentuk persepsi tertentu di kalangan publik.
Psyops Digital dan Pembentukan Persepsi Publik
Dalam pandangannya, operasi semacam ini dikenal dalam dunia intelijen sebagai psychological operation atau psyops digital, yang merupakan perang psikologis untuk membentuk persepsi publik secara masif. “Tujuan akhirnya bukan hanya untuk membuat pemerintah dikritik, tetapi juga menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,” lanjutnya.
Amir juga mencatat bahwa serangan digital yang terfokus pada Presiden Prabowo menunjukkan adanya sumber daya besar yang mendukung operasi tersebut. Ia mengindikasikan bahwa aktivitas seperti ini memerlukan biaya yang tidak sedikit karena dilakukan secara konsisten dan lintas platform.
Keterlibatan Elite dan Dampak Kekecewaan Politik
“Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,” ungkap Amir. Ia juga menduga bahwa ada keterlibatan kelompok elite tertentu yang berpengalaman dalam operasi intelijen dan perang informasi.
Amir menambahkan bahwa terdapat indikasi peran mantan petinggi intelijen yang merasa kecewa atau sakit hati terhadap pemerintahan yang kini dipimpin oleh Prabowo. “Sosok tersebut pernah diberhentikan setelah dianggap gagal mengantisipasi kerusuhan besar yang terjadi pada Agustus 2025,” ungkap Amir.
Ia menyatakan bahwa kegagalan membaca eskalasi kerusuhan adalah persoalan serius dalam dunia intelijen, terutama jika sosok tersebut sebelumnya diberikan posisi strategis di kabinet. Ketika muncul kekecewaan politik, potensi konflik di kalangan elite dapat beralih menjadi perang opini yang melibatkan publik secara luas.
“Meskipun saya tidak menyebut nama, pola operasi digital seperti sekarang biasanya terkait dengan pertarungan kepentingan di lingkar elite kekuasaan,” tandas Amir. Ia mengingatkan bahwa jika setiap hari publik disuguhi narasi negatif, maka akan terbentuk kesan bahwa negara sedang dalam keadaan gagal, yang merupakan teknik klasik dalam operasi persepsi.





