Politik

Prabowo, Naga Asia yang Bangkit Memimpin Perubahan Strategis!

Jakarta, Maret.id — Pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyoroti upaya Presiden Prabowo Subianto dalam menjalin hubungan internasional yang intensif sejak memimpin Indonesia. Denny menyatakan bahwa dalam waktu yang relatif singkat, Prabowo telah berhasil membangun komunikasi dengan sejumlah kekuatan utama di dunia.

Hubungan Strategis dengan Lima Negara Besar

“Prabowo telah aktif dalam menjalin hubungan dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris, dan Prancis,” ungkap Denny, merujuk pada lima negara yang memiliki pengaruh signifikan dalam arsitektur politik global serta memegang Hak Veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Denny menekankan bahwa hubungan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tidak dibangun atas dasar keberpihakan kepada satu blok tertentu.

Denny mengamati bahwa Prabowo berhasil menunjukkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan yang semakin sulit ditemukan di era rivalitas geopolitik saat ini. Ia berkomentar, “Prabowo berbicara dengan Washington tanpa memusuhi Beijing dan menjalin hubungan erat dengan Beijing sambil tidak memutuskan hubungan dengan negara-negara Barat.”

Aset Strategis dalam Diplomasi Global

Lebih lanjut, Denny menekankan pentingnya kemampuan Prabowo dalam membangun komunikasi dengan Moskow tanpa kehilangan kepercayaan negara-negara Eropa. “Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan seperti itu adalah aset strategis yang sangat berharga,” tambahnya.

Media Prancis, Opinion Internationale, bahkan menyebut Indonesia sebagai “Naga Asia terakhir yang bangkit” di bawah kepemimpinan Prabowo. Denny menjelaskan bahwa julukan ini muncul dari perpaduan ukuran ekonomi negara, bonus demografi, posisi geopolitik yang strategis, serta ambisi pembangunan nasional yang besar.

Membangun Jaringan dan Kemandirian

Di tengah pengakuan publik internasional yang selama ini lebih mengenal tokoh-tokoh seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi, Denny berharap Indonesia juga akan dipandang memiliki figur yang mampu memainkan peran serupa di Asia Tenggara. “Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat hanya karena kekayaan alam semata,” kata Denny.

Denny menjelaskan bahwa negara akan menjadi kuat jika dapat membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, serta energi dan pertahanan secara serentak. “Oleh karena itu, diplomasi Prabowo bukanlah diplomasi seremonial, melainkan merupakan diplomasi pembangunan yang nyata,” tutupnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button