WHO Peringatkan Konflik Memanas Memperparah Ebola di Kongo, Ancam Ekonomi Regional!

Jakarta, Maret.id — Situasi wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo kian kompleks karena bertumpuknya faktor konflik bersenjata, perpindahan penduduk, kelangkaan pangan, dan rendahnya kepercayaan masyarakat yang memperumit upaya pengendalian, kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Tedros menyatakan kunjungannya ke lapangan bertujuan untuk menunjukkan kepada warga terdampak bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa WHO hadir untuk mendukung respons kesehatan di wilayah itu.
Tim WHO sudah melakukan kunjungan ke Bunia, ibu kota provinsi Ituri di bagian timur negara tersebut, untuk melakukan penilaian situasi dan memperkuat koordinasi dengan otoritas setempat.
WHO di Lapangan
Kehadiran tim WHO di Bunia dimaksudkan untuk memperkuat upaya respons teknis dan membantu mempercepat tindakan mitigasi di sumber wabah.
Pendekatan yang didorong WHO meliputi penguatan surveillance, isolasi pasien, pelacakan kontak, serta komunikasi risiko untuk membangun kembali kepercayaan komunitas.
WHO juga mendorong kerja sama yang lebih erat antara otoritas kesehatan setempat, pemerintah daerah, dan mitra kemanusiaan internasional agar intervensi dapat berjalan lebih efektif.
Penguatan kapasitas fasilitas kesehatan lokal dan perlindungan bagi tenaga medis menjadi bagian penting dari strategi untuk memastikan akses layanan tetap tersedia di tengah kondisi ketidakstabilan.
Penolakan terhadap Larangan Perjalanan
Tedros menegaskan bahwa WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan terhadap pelancong dari Republik Demokratik Kongo sebagai langkah respons terhadap wabah.
Ia memandang langkah-langkah tersebut hanya bisa menunda penularan beberapa hari dan tidak menyelesaikan akar masalah penyebaran penyakit.
Lebih jauh, Tedros memperingatkan bahwa pembatasan perjalanan berisiko memberikan sinyal hukuman terhadap negara yang melaporkan wabah secara transparan, sehingga berpotensi mengurangi kemauan melaporkan kasus sejak dini.
Dampak negatif lain dari larangan perjalanan termasuk terhambatnya mobilitas tenaga kesehatan dan bantuan logistik yang sesungguhnya diperlukan untuk mengekang wabah.
Tantangan Kemanusiaan dan Kepercayaan
Kondisi kemanusiaan yang memburuk seperti pengungsian massal dan krisis pangan meningkatkan kerentanan komunitas serta mempersempit akses ke layanan kesehatan penting.
Ketidakpercayaan terhadap otoritas dan penyedia layanan kesehatan membuat pelacakan kontak dan penerapan intervensi komunitas menjadi jauh lebih sulit.
Tedros kembali menyerukan gencatan senjata di daerah-daerah terdampak sehingga tenaga kesehatan dan organisasi bantuan dapat bekerja dengan lebih aman dan tanpa hambatan.
Solidaritas dan dukungan internasional yang terkoordinasi dianggap krusial untuk mendukung upaya pengendalian yang berkelanjutan di tengah kondisi keamanan yang rapuh.
Kelangsungan Respons dan Rekomendasi
Para ahli menekankan pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan intervensi medis dan bantuan kemanusiaan untuk mengatasi wabah dalam konteks konflik.
Langkah-langkah yang direkomendasikan WHO mencakup peningkatan kapasitas respons lokal, perlindungan tenaga kesehatan, serta komunikasi risiko yang efektif untuk memulihkan kepercayaan komunitas dan mendorong pelaporan dini.
Upaya-upaya ini diharapkan dapat memperkecil hambatan operasional dan memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan yang diperlukan bagi warga terdampak, sekaligus menjaga agar transparansi pelaporan tidak menjadi alasan penderitaan lebih lanjut.
Tedros mengingatkan bahwa dukungan global dan komitmen semua pihak akan menentukan keberhasilan penanganan wabah di tengah tantangan keamanan dan kemanusiaan yang berlangsung.





