Kiai Muda NU Solo Raya Desak Reformasi Arah Kebijakan PBNU!

Jakarta, Maret.id — Forum penting yang membahas peran kepemimpinan ulama dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) baru-baru ini dihadiri oleh dua narasumber terkemuka, yaitu Ahmad Baso, seorang intelektual dari NU, dan Gus Mustafid, pengasuh PPM Aswaja Nusantara Mlangi. Dalam forum tersebut, kedua tokoh ini mengungkapkan pandangan mereka tentang tantangan yang dihadapi NU saat ini.
Pentingnya Menjaga Kearifan Ulama
Ahmad Baso menekankan pentingnya menjaga fungsi kepemimpinan ulama di organisasi NU. Ia mengingatkan kembali pesan KH Ahmad Siddiq yang menegaskan bahwa NU harus tetap berada pada jalur perjuangannya. “KH Ahmad Siddiq pernah mengibaratkan NU seperti rel kereta api yang harus tetap berada pada jalurnya, bukan seperti taksi yang arah perjalanannya ditentukan sepenuhnya oleh sopir,” ujarnya.
Baso menjelaskan bahwa posisi Rois Aam sangat penting dalam menjaga arah organisasi dan berfungsi sebagai otoritas moral tertinggi. Rois Aam, menurutnya, harus mampu memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada umat. Ia juga mengenang pengalaman bersama almarhum KH Sahal Mahfudh yang menegaskan bahwa tugas ulama tidak hanya mendukung tetapi juga mengoreksi kebijakan yang dianggap keliru.
Kriteria Ideal Rois Aam
Dalam berbicara tentang kriteria Rois Aam yang ideal, Baso menyebutkan empat aspek penting: wara’ (menjaga diri dari orientasi duniawi), faqih (memiliki kedalaman ilmu agama dan fikih), muharrik (mampu menggerakkan umat), dan munazzim (memiliki kapasitas organisatoris). “Jika Rois Aam tidak memiliki kapasitas keilmuan yang kuat, maka otoritas ulama akan melemah,” tegasnya.
Sementara itu, Gus Mustafid juga menyoroti bahwa kritik dari warga Nahdliyin harus dilihat sebagai tanggung jawab moral untuk kemajuan organisasi, bukan sebagai upaya memecah belah. Ia berharap bahwa kontribusi positif dari warga NU dapat membantu memperbaiki dan memajukan PBNU di masa mendatang.
Tiga Fondasi Perjuangan NU
Gus Mustafid menjelaskan mengenai Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang mencakup tiga fondasi utama perjuangan NU. Pertama, otoritas ilmu dan keulamaan harus dijunjung tinggi dalam setiap aspek kehidupan organisasi. Kedua, prinsip al-ittihad atau persatuan penting untuk dipertahankan, di mana perbedaan pendapat tidak boleh mengakibatkan perpecahan.
“Ketegangan dan berbagai pandangan yang berbeda adalah hal yang wajar, tetapi kita harus tetap menjaga ikatan persatuan yang menjadi warisan para pendiri NU,” kata Gus Mustafid. Ketiga, NU harus berfungsi sebagai alat perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai agama dan kepentingan umat, dan tidak boleh dipergunakan untuk keuntungan pribadi.
Kegiatan Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya tersebut menghasilkan kesepahaman yang kuat mengenai penguatan peran kepemimpinan ulama sebagai penjaga moral organisasi, serta perlunya tradisi kritik yang konstruktif di tengah tantangan yang dihadapi, menjelang Konferensi Besar NU yang akan datang.





