Politik

Multipolaritas Mendesak Jadi Landasan Kerja Sama Global, Bukan Konfrontasi!

Jakarta, Maret.id — Di tengah meningkatnya rivalitas di panggung global, Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai negara yang menjunjung tinggi kerja sama keamanan yang inklusif tanpa terikat pada blok tertentu. Ini terlihat jelas dalam forum internasional yang melibatkan lebih dari 120 negara, di mana Indonesia menegaskan strateginya untuk tetap netral dan bersahabat dengan semua kekuatan besar.

Indonesia Mengkomunikasikan Posisi Strategisnya

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menyatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh Indonesia di Moskow jauh lebih dalam dari sekadar seruan normatif untuk kerja sama keamanan. “Dalam konteks geopolitik yang kompleks saat ini, Indonesia mengirim sinyal yang jelas kepada semua kekuatan besar bahwa Jakarta tidak ingin terjebak dalam politik blok. Indonesia berkomitmen untuk menjadi mitra bagi semua pihak, baik dari Barat maupun Timur, sembari menjaga independensi strategisnya,” ujarnya.

Amir juga menyoroti bahwa dunia saat ini tengah beralih menuju struktur multipolar. Munculnya sejumlah pusat kekuatan baru—selain Amerika Serikat—seperti China, Rusia, India, negara-negara Teluk, serta kelompok negara berkembang dalam berbagai forum internasional baru, menciptakan peluang dan tantangan. Di satu sisi, hal ini memperluas ruang manuver bagi negara-negara berkembang untuk tidak bergantung hanya pada satu kekuatan dominan.

Peran Negara Menengah dalam Geopolitik

Namun, di sisi lain, persaingan antara kekuatan besar semakin intensif, dan ini berpotensi memberikan tekanan kepada negara-negara yang berada dalam posisi strategis seperti Indonesia. “Dalam kondisi seperti sekarang, negara-negara menengah atau middle power sangat krusial. Indonesia termasuk di dalamnya, berkat posisi geografisnya yang strategis, kekayaan sumber daya alam, dan pengaruh diplomatik yang kuat di kawasan Asia Tenggara,” tambah Amir.

Delegasi Republik Indonesia, yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Tri Budi Utomo, berkolaborasi dengan berbagai unsur Kementerian, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Polri. Delegasi ini membawa pesan yang selaras dengan tradisi politik luar negeri Indonesia selama puluhan tahun yakni menjaga keseimbangan, memperluas kerja sama, dan menghindari polarisasi geopolitik.

Transisi Menuju Tatanan Multipolar

Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan bahwa dunia kini memasuki fase transisi menuju tatanan multipolar yang ditandai dengan perluasan pengaruh global ke berbagai pusat baru. Meski terdapat peluang yang dihasilkan dari transisi ini, Amir menegaskan bahwa risiko meningkatnya fragmentasi, kompetisi strategis, dan ketidakpastian internasional juga menjadi tantangan.

Dengan terus meneguhkan komitmennya terhadap diplomasi inklusif dan kerja sama multilateral, Indonesia berupaya untuk memainkan peran yang lebih signifikan di kancah internasional dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button