PAN Terancam Kehilangan Suara Akibat Zulhas Gagal Kendalikan Harga Migor!

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, mengungkapkan bahwa lonjakan harga minyak goreng subsidi MinyakKita merupakan indikator nyata dalam menilai kinerja dua menteri dari partai Persatuan Aman (PAN) dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Efriza menyatakan, keterkaitan Menteri Perdagangan dan Menteri Koordinator Pangan dengan PAN memungkinkan publik menyalurkan kritik terhadap partai tersebut. “Fakta bahwa kedua menteri ini terafiliasi dengan PAN akan memicu reaksi publik yang semakin kritis,” ungkapnya pada Senin, 8 Juni 2026.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Citra Politisi
Dia menjelaskan, peningkatan harga MinyakKita sebagai produk subsidi dapat menciptakan dampak negatif pada reputasi Zulhas, sapaan akrab Zulfiqri Hasan, dan Budi Santoso, serta pada pemerintah yang dipimpin oleh Prabowo Subianto. “Lonjakan harga minyak goreng lainnya semakin melambung, yang menunjukkan bahwa pengelolaan sektor perdagangan dan pangan tidak memuaskan,” tegasnya.
Lebih jauh, Efriza, yang juga merupakan Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), meyakini bahwa publik akan melihat kenaikan harga ini tidak hanya sebagai sebuah masalah teknis, tetapi juga sebagai kegagalan politik dalam upaya melindungi masyarakat kecil. “Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat ini berpotensi mengurangi legitimasi pemerintah serta menurunkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini,” jelas Efriza.
Tanggapan terhadap Kebijakan Pemerintah
Kenaikan harga minyak goreng subsidi ini berpotensi memicu perdebatan lebih dalam mengenai kebijakan pangan dan perdagangan yang diterapkan oleh pemerintah. Banyak kalangan menilai, pemerintah harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem subsidi yang ada agar ke depan tak ada lagi kebijakan yang merugikan masyarakat.
Efriza juga menekankan, pentingnya bagi pemerintah untuk segera mengatasi isu ini agar tidak berlarut-larut. “Sikap responsif dan solutif akan menjadi kunci bagi pemerintah untuk mempertahankan dukungan publik dan meningkatkan kredibilitas mereka,” pungkasnya.
Konsekuensi Politik bagi PAN
Dari sudut pandang politik, kritik terhadap PAN semakin menguat sebagai konsekuensi langsung dari situasi ini. Dengan dua menteri dari partai tersebut berada dalam pos strategis, setiap kebijakan yang dianggap merugikan publik akan langsung berdampak pada citra partai, terutama menjelang pemilihan umum yang akan datang.
Efriza menekankan, “Kritik ini bukan hanya mengenai dua individu menteri, namun juga mencerminkan potensi kerugian yang lebih besar bagi partai jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki kondisi tersebut.” Ke depan, respon yang bijaksana terhadap kritik publik akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi PAN dalam menjaga posisinya di panggung politik nasional.





