Buku Baru Hensa Bongkar Jejak Pemikiran Sumitro dalam Kebijakan Prabowo!

Jakarta, Maret.id — Buku terbaru yang ditulis oleh Hensa, berjudul “Estafet Ideologi dari Sumitro ke Prabowo”, mengeksplorasi bagaimana ideologi ekonom legendaris Sumitro Djojohadikusumo diterjemahkan dalam konteks saat ini oleh putranya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Hensa menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk memahami pemikiran Sumitro di masa lalu dan bagaimana pemikiran tersebut diterjemahkan oleh Prabowo saat ini. “Seberapa besar perbedaan yang signifikan juga menjadi fokus dalam tulisan ini,” ujarnya.
Pendekatan Komunikasi Publik dalam Penulisan
Sebagai pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hensa menyatakan bahwa pendekatan komunikasi publik digunakan dalam penulisan buku tersebut. Ia berpendapat bahwa pendekatan ini akan memudahkan pembaca untuk mengikuti alur pemikiran Sumitro yang diimplementasikan oleh Prabowo secara lebih jelas.
Lebih lanjut, Hensa menekankan bahwa istilah “estafet” tidak berarti Sumitro secara langsung memberikan tongkat kepada Prabowo. “Sebaliknya, saya mengartikan estafet ini sebagai Prabowo yang mengambil tongkat dari Sumitro untuk melanjutkan gagasan-gagasannya demi kesejahteraan Indonesia,” jelasnya.
Acara Peluncuran dan Kehadiran Tokoh-Tokoh Penting
Peluncuran buku ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah akademisi, seperti Ekonom Wijayanto Samirin dan Ninasapti Triaswati.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, dalam sambutannya menyatakan bahwa saat ini sangat sedikit yang berani membahas ideologi dalam diskursus publik. “Buku yang membahas tentang ideologi sangat jarang, sehingga kita harus mengapresiasi keberanian Hensa untuk menggali tema ini,” tutur Ferry.
Pemikiran Ekonomi Kerakyatan dan Pentingnya “Estafet Ideologi”
Misbakhun, yang membuka acara, menilai bahwa buku Hensa berusaha mengabadikan pemikiran Sumitro mengenai ekonomi kerakyatan. “Karya ini mendokumentasikan pandangan ideologis Sumitro terkait pasal 33 UUD RI dan bagaimana ekonomi tersebut dapat diterapkan,” ungkap Misbakhun.
Budiman Sudjatmiko, dalam pandangannya, menafsirkan tema “estafet ideologi” sebagai prinsip dasar Prabowo untuk melakukan hal yang benar. Ia menekankan bahwa panduan ideologis sangat penting agar keyakinan yang tepat dapat dilaksanakan dengan metode yang benar.
“Estafet ideologi ini menarik karena pada dasarnya, ideologi berkaitan dengan tindakan yang benar,” jelas Budiman, menekankan kenyataan bahwa keyakinan Prabowo harus sesuai dengan tindakan yang diambil.
Sementara Ninasapti, seorang ekonom dari Universitas Indonesia, mengamati bahwa visi ekonomi tersebut harus diimplementasikan dengan penyesuaian terhadap tantangan strategis dan keamanan negara. “Pemikiran Sumitro diintegrasikan dalam Program Pembangunan Prabowo dengan penekanan pada kerangka pertahanan dan keberlanjutan Pancasila,” ujarnya.
Dosen Universitas Paramadina, Wachid Rahman, juga percaya bahwa buku ini berhasil menyoroti proses transfer ideologi antara Sumitro dan Prabowo. “Ada identitas kuat dari Pak Sumitro sebagai sosialis, namun bagaimana ideologi itu terbangun di Prabowo saat ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri,” pungkasnya.





