Politik

Pemerintah Wajib Beri Insentif Agar Daya Beli Tetap Stabil Usai Kenaikan Pertamax!

Jakarta, Maret.id — Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mengalami kenaikan signifikan per 10 Juni 2026. Kenaikan tersebut membuat harga per liter naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250, atau meningkat sekitar 32,1 persen.

Dampak Kenaikan Harga BBM

Kenaikan ini akan berdampak langsung pada pengeluaran masyarakat. Handi menjelaskan bahwa bagi pengguna yang menghabiskan 100 liter Pertamax per bulan, akan ada tambahan biaya sekitar Rp395 ribu. Jika penggunaan mencapai 150 liter per bulan, tambahan pengeluaran bisa mendekati Rp600 ribu setiap bulannya.

“Harga barang dan kebutuhan lainnya sudah berada pada tren meningkat, ditambah inflasi yang berada di kisaran 3,5 persen. Kenaikan biaya energi ini tentu akan membatasi kemampuan konsumsi rumah tangga untuk pengeluaran non-esensial,” ungkap Handi dalam konferensi pers yang digelar pada hari Rabu, 10 Juni 2026.

Potensi Perlambatan Sektor Konsumsi

Akibat dari kenaikan harga ini, sektor-sektor yang bergantung pada konsumsi kelas menengah, seperti ritel, restoran, hiburan, dan pariwisata, berpotensi mengalami perlambatan permintaan. Hal ini, menurut Handi, dapat menimbulkan risiko yang jauh lebih besar, yakni melemahnya daya beli masyarakat.

“Risiko utama yang dihadapi bukan hanya inflasi, tetapi juga migrasi konsumsi ke BBM bersubsidi yang berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tegasnya. Meskipun Handi menambahkan bahwa kenaikan harga Pertamax ini tidak akan mengguncang inflasi dan pertumbuhan ekonomi seperti halnya kenaikan BBM bersubsidi, kenaikan sebesar 32 persen tetap perlu diperhatikan.

Panggilan untuk Kebijakan Insentif

Melihat besarnya dampak dari kenaikan ini, Handi meminta pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah insentif. Ia mengusulkan agar pemerintah memberikan dukungan terhadap transportasi publik, serta untuk biaya pendidikan dan kesehatan, dan juga mengusulkan pengurangan pajak.

“Langkah-langkah tersebut sangat penting untuk menjaga daya beli dan konsumsi kelas menengah, agar tidak berdampak lebih meluas terhadap perekonomian,” tutupnya. Keadaan ini menjadi fokus utama perhatian pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi di tengah kenaikan harga yang signifikan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button