Rupiah dan IHSG Tertekan, Namun Fundamental Ekonomi Tetap Kuat!

Jakarta, Maret.id — Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera, Habib Idrus, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai indikator ekonomi makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional kini berada pada jalur yang aman meskipun pasar keuangan menghadapi tekanan yang signifikan.
Indikator Ekonomi yang Positif
“Kalau melihat fundamental ekonomi Indonesia saat ini, saya melihat masih cukup baik. Defisit anggaran kita masih sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan itu masih tergolong aman,” ungkap Habib Idrus dalam sebuah kesempatan, menggarisbawahi bahwa meskipun ada tantangan yang dihadapi, kondisi keuangan negara tetap terjaga.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Menurutnya, jika dibiarkan berlarut-larut, keadaan ini berpotensi mengganggu kepercayaan pasar serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
Pentingnya Memperhatikan Diversifikasi Indikator
Habib Idrus menekankan bahwa tekanan terhadap rupiah tak boleh dianalisis hanya dari satu indikator saja. Ia menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi perekonomian harus dilihat dari berbagai sisi, termasuk permintaan terhadap rupiah di pasar internasional dan minat investasi di Indonesia.
“Kita tidak bisa melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi IHSG atau PDB saja. Permintaan rupiah di pasar internasional juga harus menjadi perhatian, begitu juga dengan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” jelasnya lebih lanjut.
Ketergantungan Terhadap Impor dan Dolar AS
Idrus menilai bahwa meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap impor dan penggunaan dolar AS dalam transaksi ekonomi juga perlu mendapat perhatian khusus. Hal tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sudah dalam kondisi rentan.
“Jangan sampai impor kita semakin tinggi, penggunaan dolar semakin besar, sementara kepercayaan publik terhadap rupiah justru menurun. Itu yang tidak kita harapkan,” tegasnya. Kewaspadaan terhadap kondisi ini sangat penting, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.





