Politik

Kenaikan Pertamax Gempur Kelas Menengah, Dompet Mereka Terancam Jebol!

Jakarta, Maret.id — Pengamat ekonomi, Dipo Satria Ramli, menegaskan bahwa meskipun pemerintah menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi, tantangan utama sebenarnya terletak pada kondisi keuangan masyarakat.

Kenaikan Harga BBM dan Dampaknya

Dipo mencatat bahwa harga Pertamax telah melonjak lebih dari 30 persen. Dia berpendapat bahwa klaim pemerintah tentang stabilitas inflasi terkesan tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat. “Aman bagi APBN negara, tetapi tidak untuk dompet masyarakat,” ujar Dipo dalam keterangannya, yang dirilis pada Kamis, 11 Juni 2026.

Kelompok yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga ini adalah masyarakat kelas menengah. Mereka terjebak dalam posisi sulit; tidak memenuhi kriteria untuk menerima bantuan sosial, tetapi juga harus menanggung beban peningkatan harga BBM nonsubsidi. “Menjadi kelas menengah di Indonesia adalah posisi yang paling serba salah,” ungkapnya, menunjukkan ironi pada kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.

Dampak Terhadap Daya Beli

Dipo menekankan bahwa meskipun dampak makroekonomi dari peningkatan harga BBM relatif kecil, estimasi hanya mencapai 0,1 persen, hal tersebut tidak mencerminkan keadaan dompet masyarakat. “Yang berbahaya adalah daya beli kelas menengah, yang sangat rentan,” jelasnya.

Ia menggarisbawahi pentingnya memperhatikan konsumerisme masyarakat, terutama kelompok menengah ke atas, yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,6 persen, sebagian besar didorong oleh konsumsi rumah tangga. Namun, kontribusi terbesar datang dari kalangan menengah ke atas, yang saat ini terancam oleh kenaikan harga BBM.

Pentingnya Memperhatikan Kelas Menengah

Dengan situasi ini, Dipo mengingatkan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada indikator makroekonomi. Pengamat tersebut meminta agar perhatian juga diarahkan pada kondisi riil masyarakat, khususnya kelas menengah yang pada dasarnya mengalami tekanan yang sangat sensitif terhadap fluktuasi ekonomi. “Konsumsi rumah tangga, terutama dari kelas menengah, harus dijaga,” tambahnya.

Dia menggambarkan kelas menengah sebagai kelompok yang tidak miskin, tetapi juga jauh dari kaya. Sebagian besar pendapatan mereka habis untuk memenuhi kebutuhan rutin seperti pendidikan anak, cicilan, dan kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Dipo menekankan bahwa situasi ekonomis yang tidak stabil dapat berpotensi mengikis daya beli dan mengancam pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button