Tokoh NU Bongkar Makna Warisan Bung Karno untuk Islam Kebangsaan!

Jakarta, Maret.id — Diskusi yang mempertemukan berbagai tokoh penting dalam sejarah Indonesia berlangsung baru-baru ini. Kegiatan tersebut dihadiri oleh mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN Muhammad Najib Azca, serta Ketua PBNU Savic Ali.
Kedekatan Bung Karno dan NU
Lukman Hakim Saifuddin mengemukakan bahwa kedekatan Bung Karno dengan Nahdlatul Ulama (NU) tidak semata karena kesamaan latar belakang organisasi. Dia mengungkapkan, meskipun Bung Karno dikenal dekat dengan Muhammadiyah selama masa mudanya, pertemuan dengan NU didasari oleh pemahaman bersama tentang Islam yang bersifat kebangsaan.
Menurut Lukman, hubungan ini mengedepankan paham Islam kebangsaan yang menjadi daya tarik di antara keduanya. “Yang mempertemukan keduanya, Bung Karno dan NU, adalah paham Islam kebangsaan sebagaimana tema diskusi kita hari ini,” jelas Lukman.
Pentingnya Agama dalam Negara
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa Bung Karno sejak muda telah menyerap banyak pemikiran Islam. Hal ini berkaitan dengan hubungan yang saling menguatkan antara agama dan negara. “Negara membutuhkan agama karena negara bisa bertindak berlebihan, melewati batas, dan nilai-nilai agama dapat menjadi kontrol,” ujarnya. Dia juga menekankan pentingnya peran negara dalam menjaga keseimbangan agar pemahaman agama tidak menjadi ekstrem.
Inayah Wahid menambahkan perspektif mengenai hubungan Bung Karno dan NU sebelum kemerdekaan. Dia menilai bahwa para tokoh Islam saat itu lebih mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan golongan. “Esensi agama tetap keluar meskipun tidak tertulis secara formal dalam bentuk tertentu,” ungkap Inayah. Dia menggarisbawahi bahwa nilai-nilai tersebut masih relevan bagi generasi muda dalam menjaga persatuan.
Resolusi Jihad dan Komitmen Bersama
Muhammad Najib Azca menyoroti pentingnya hubungan Bung Karno dan NU sebagai sintesis antara nasionalisme dan tradisi Islam di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa dukungan ulama NU terhadap Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad yang diprakarsai Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari memegang peranan penting dalam menjaga kemerdekaan Indonesia.
“Tanpa legitimasi yang kuat dari para ulama, tidak mudah bagi negara baru Indonesia mempertahankan kemerdekaannya,” tutur Najib. Hal ini menggarisbawahi bahwa Resolusi Jihad adalah bagian kritis dari sejarah perjuangan bangsa.
Savic Ali menambahkan bahwa meskipun Bung Karno dan NU berasal dari tradisi yang berbeda, keduanya sepakat dalam komitmen terhadap Indonesia. “NU dan Bung Karno berasal dari tradisi yang berbeda. Namun, keduanya bertemu dalam komitmen yang sama terhadap kebangsaan Indonesia,” ungkapnya.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Bulan Bung Karno 2026. Para pembicara sepakat bahwa penting untuk mewariskan pemahaman sejarah hubungan antara nasionalisme dan Islam kepada generasi muda. Hal ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam menjaga Indonesia yang majemuk, inklusif, dan bersatu.





