Gibran Didesak Hentikan Pencitraan, Ajak Mahasiswa Kunker untuk Kebaikan!

Jakarta, Maret.id — Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengungkapkan bahwa setiap langkah politik yang diambil oleh para elit negara, khususnya seorang wakil presiden, selalu menarik perhatian publik dan menciptakan beragam penilaian. Menurutnya, langkah-langkah tersebut tak bisa dihindari dari perdebatan yang timbul serta reaksi yang bisa beragam dari masyarakat.
Gibran dan Respons Terhadap Tuntutan Mahasiswa
Belakangan ini, Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan setelah menerima sejumlah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang melaksanakan aksi unjuk rasa. Dalam dialog tersebut, Gibran menyatakan komitmen pemerintah untuk membuka ruang komunikasi politik, menerima berbagai masukan, serta berusaha merealisasikan tuntutan yang diajukan oleh mahasiswa.
Langkah Gibran ini menjadi perhatian mengingat sebelumnya ada kelompok mahasiswa lain yang juga melakukan demonstrasi tetapi tidak mendapatkan kesempatan serupa untuk bertemu. Setelah pertemuan tersebut, Gibran juga mengundang beberapa mahasiswa dari berbagai kampus untuk mengikuti kunjungan kerja ke beberapa daerah, termasuk Papua dan Nusa Tenggara Timur. Dalam perjalanan itu, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk meninjau berbagai program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Apresiasi dan Kritik Terhadap Tindakan Gibran
Menurut Adi Prayitno, langkah Gibran menuai beragam reaksi. Sebagian kalangan mengapresiasi tindakan tersebut sebagai bentuk keterbukaan pemerintah terhadap kritik dan aspirasi publik. Namun, di sisi lain, ada yang menganggap bahwa tindakan ini merupakan bagian dari strategi membangun citra politik menjelang kontestasi politik di masa depan.
“Ada yang mendukung dan mengapresiasi apa yang dilakukan wapres sebagai bentuk komunikasi dan keterbukaan terhadap kritik publik. Namun, ada pula yang menuding tindakan ini sebagai upaya untuk membangun citra sebagai wakil presiden yang peduli, bahkan dikaitkan dengan agenda menuju 2029,” ungkap Adi.
Pentingnya Suasana Kebangsaan dalam Debat Politik
Walaupun terdapat pro dan kontra, Adi menekankan bahwa kritik dan perbedaan pandangan dalam politik adalah hal yang lumrah dalam sistem demokrasi. Ia berharap perdebatan yang terjadi tetap dalam koridor yang sehat, tanpa diwarnai oleh penyebaran informasi palsu atau serangan personal.
“Yang paling penting dalam suasana kebangsaan, tidak boleh ada hoaks, tidak boleh ada fitnah, tidak boleh saling menghujat, dan tidak boleh saling mencaci maki,” tegasnya. Adi juga mengajak semua elemen masyarakat untuk memaknai politik secara lebih dewasa, sebagai sarana untuk memperkuat persahabatan dan kebangsaan, sekaligus menciptakan ruang bagi perbedaan yang sehat dalam kehidupan berdemokrasi.
“Mari kita maknai politik sebagai hal yang biasa-biasa saja, yaitu politik kebangsaan, politik persahabatan, dan politik perlawanan,” pungkasnya.





