Politik

Film Dokumenter Pesta Babi Jangan Perburuk Situasi di Papua

Jakarta, Maret.id — Tokoh asal Indonesia Timur yang akrab dipanggil Manche menyatakan kebingungan dan keberatan atas tanggapan Novel Baswedan terhadap film dokumenter Pesta Babi. Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026, Manche menilai komentar Novel cenderung menarik kesimpulan besar tentang Papua hanya berdasarkan sudut pandang film tersebut, sehingga berpotensi membentuk stigma negatif dan memperkeruh situasi.

Kritik atas cara pandang dan tanggung jawab figur publik

Manche menegaskan bahwa sebagai figur publik yang berstatus ASN Polri, Novel semestinya lebih berhati-hati dalam menyampaikan opini terkait Papua, mengingat kawasan ini sensitif dan rentan terhadap polarisasi informasi. Menurut Manche, sorotan Novel yang menekankan dugaan eksploitasi konflik, pengungsian, dan eskalasi keamanan bisa mengarahkan publik melihat Papua secara “hitam-putih”.

“Kami bingung dengan jalan pikiran Novel Baswedan. Sebagai figur publik yang berada dalam lingkungan ASN Polri, mestinya memahami bahwa Papua adalah wilayah yang sensitif dan membutuhkan kehati-hatian dalam menyampaikan opini. Jangan sampai komentar terhadap film Pesta Babi justru membentuk stigma baru dan memperkeruh keadaan,” kata Manche.

Seruan melihat konteks lebih luas dan menjaga persatuan

Manche mengingatkan bahwa film dokumenter tidak dapat dijadikan satu-satunya rujukan untuk menggambarkan kompleksitas Papua. Ia mendorong agar narasi yang dibangun mencakup kemajuan, usaha menjaga kedamaian, pembangunan ekonomi kampung, pendidikan anak, pelayanan kesehatan, serta kehidupan adat yang damai.

“Kalau narasi yang dibangun hanya soal konflik, militerisasi, dan penderitaan, tentu publik luar akan melihat Papua secara hitam-putih. Padahal masyarakat Papua hari ini sedang berjuang menjaga kedamaian, membangun ekonomi kampung, pendidikan anak-anak, dan memperkuat kehidupan adat,” ujarnya.

Selain itu, Manche mengingatkan tanggung jawab moral figur publik untuk menjaga stabilitas sosial nasional. Ia meminta pendekatan yang menenangkan masyarakat, bukan narasi yang dapat memperbesar keresahan dan merusak kepercayaan terhadap upaya perdamaian di Papua. Manche menegaskan masyarakat Indonesia Timur berkomitmen menjaga suasana damai dan membangun kepercayaan antarwarga di tengah berbagai tantangan sosial dan keamanan.

“Kami orang Timur menjaga kedamaian di tanah kami sendiri. Karena itu kami berharap jangan ada pihak yang membuat kisruh baru lewat komentar yang tidak konstruktif. Papua membutuhkan solusi dan persatuan, bukan perang opini,” tutup Manche, seraya meminta semua pihak lebih bijak dalam mengangkat isu Papua agar tidak memperkuat stigma negatif di tingkat nasional maupun internasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button