Aliansi Mahasiswa Indonesia Tolak Reformasi Jilid II dan Desak Pemerintah Fokus pada Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, Maret.id — Koordinator Pusat BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Charles Gilbert, menegaskan pentingnya menjaga independensi gerakan mahasiswa dalam menghadapi tuntutan perubahan. Hal ini disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Menguji Urgensi Reformasi Jilid II: Apakah Indonesia Membutuhkan Perubahan Sistem atau Penguatan Stabilitas Nasional?” yang diadakan oleh Aliansi Mahasiswa Indonesia di Kantor Pusat PERDHAKI, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 20 Juni 2026.
“Mahasiswa harus tetap menjaga independensi gerakan, mengedepankan objektivitas, serta terus mengawal kebijakan publik secara kritis dan proporsional demi kepentingan masyarakat luas,” kata Gilbert.
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, antara lain Frimus Wistito Nababan, Ketua Bidang Politik DPP GMNI, Ahmad Tomy Wijaya dari BEM Pesantren Seluruh Indonesia, dan Ghulam Zaky selaku Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Provinsi Riau.
Frimus Wistito Nababan menilai istilah Reformasi Jilid II tidak tepat digunakan. “Yang lebih penting adalah melanjutkan serta menyempurnakan cita-cita Reformasi 1998 yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa,” tutur Nababan.
Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi harus dijaga sebagai bagian dari demokrasi. Namun, ia juga mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab dan solusi konstruktif, serta agar mahasiswa tidak dijadikan alat untuk kepentingan oligarki.
Ahmad Tomy Wijaya menyoroti persiapan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Ia menjelaskan bahwa bonus demografi dan perkembangan teknologi adalah peluang yang harus dimanfaatkan dengan optimal. “Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan mengganti sistem, melainkan melalui kemampuan bangsa dalam menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan masyarakat,” imbuh Tomy.
Ghulam Zaky menekankan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan. Ia mengajak generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi oleh polarisasi yang berkembang di ruang digital.
Ia juga menegaskan bahwa stabilitas nasional merupakan faktor penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Zaky menyatakan bahwa hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.





