Pentahelix Lunch: Rupiah Melemah Hingga Tantangan Investasi di Indonesia dan Respons Kebijakan Pemerintah

Jakarta, Maret.id — Forum yang mempertemukan berbagai unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, legislatif, dan media diadakan untuk membahas tantangan ekonomi saat ini. Acara ini menghadirkan Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Nining Yuliastiani, akademisi Prof. Cecep Darmawan, pengusaha Perry Tristianto, dan Redaktur Khusus RMOL, Saeful Zaman sebagai penggagas.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu yang tidak dapat hadir secara langsung, menyampaikan pandangannya melalui tayangan video. Dalam sambutannya, Todotua menegaskan pentingnya mengukur keberhasilan ekonomi tidak hanya dari pertumbuhan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, dengan investasi sebesar Rp98 triliun yang menyerap sekitar 76 ribu tenaga kerja,” kata Todotua. Ia menambahkan bahwa kolaborasi seluruh unsur pentahelix penting agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata.
Kepala Disperindag Jawa Barat Nining Yuliastiani mengakui bahwa pelemahan Rupiah dan gejolak ekonomi global berdampak pada harga pangan dan energi. Namun, ia menegaskan pemerintah daerah berupaya melakukan beberapa langkah mitigasi, mulai dari penguatan kemitraan industri hingga mendorong penggunaan bahan baku dalam negeri.
“Di balik setiap kesulitan selalu ada peluang. Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kemandirian ekonomi,” ujar Nining. Ia berfokus pada produk-produk lokal untuk mendukung ekonomi.
Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi menekankan bahwa persoalan ekonomi harus dijawab dengan kebijakan yang memberikan dampak langsung. Menurutnya, masyarakat tidak hanya ingin melihat program pemerintah, tetapi juga merasakan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang dilihat masyarakat bukan sekadar ada atau tidaknya program. Pertanyaannya, apakah hidup mereka menjadi lebih baik atau justru semakin berat,” kata Asep. Ia juga menggarisbawahi pentingnya budaya otokritik dan keteladanan dari para pemimpin untuk membangun kepercayaan publik.
“Jika menjadi pelayan publik, harus siap berkorban dan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” tegasnya. Prof. Cecep Darmawan turut menyoroti pentingnya keberpihakan pada masyarakat menengah ke bawah yang paling terdampak oleh tekanan ekonomi.
Ia mengingatkan untuk memastikan hasil pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. “Jangan sampai kue nasional itu hanya dinikmati oleh segelintir orang. Persoalan ketimpangan inilah yang harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.





