Revolusi Keolahragaan dalam Imaji Bung Karno oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Timur untuk Membangun Generasi Emas Indonesia

Jakarta, Maret.id — Indonesia selama ini lebih mengenal Soekarno sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan rakyat dengan kata-katanya. Namun, gagasan Bung Karno tentang olahraga seringkali terlupakan atau kurang diperhatikan.
Bagi Bung Karno, olahraga bukan sekadar urusan prestasi, melainkan bagian dari revolusi nasional untuk membentuk manusia Indonesia baru yang kuat fisik dan mental. Hal ini tercermin dalam kumpulan pernyataan yang berjudul “Revolusi Keolahragaan Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia”, yang diterbitkan oleh Departemen Olahraga pada tahun 1964.
Dalam pernyataan tersebut, terdapat delapan pidato presiden dari berbagai forum olahraga. Beberapa poin penting dapat disimpulkan dari pidato-pidato tersebut. Pertama, Bung Karno menjadikan olahraga sebagai pendorong untuk menciptakan “manusia Indonesia baru” yang kuat jasmani dan rohani. Olahraga menjadi bagian dari nation and character building.
Bung Karno menggambarkan “revolusi Indonesia” sebagai suatu hal yang kompleks. Dalam konteks ini, fungsi olahraga sangat penting. “Kita ingin mendjadi manusia Indonesia baru jang berani melihat dunia ini dengan muka jang terbuka,” tegas Bung Karno.
Kedua, Bung Karno memahami pentingnya pendekatan sains dalam melahirkan atlet-atlet andal. Melalui Keputusan Presiden Nomor 263/1963, dia berusaha melipatgandakan prestasi olahraga Indonesia secara internasional. Menteri Olahraga Maladi menjelaskan pentingnya pembangunan fisik, teknik, dan mental dalam menciptakan atlet.
Ketiga, Bung Karno menekankan prinsip sportivitas di atas kemenangan semata. “Lebih baik kita kalah, tapi budipekerti tinggi, daripada kita menang tapi budipekerti bedjat,” ujar Bung Karno. Prinisip ini menandakan bahwa setiap prestasi harus dicapai dengan integritas.
Keempat, olahraga menjadi bagian dari pembentuk citra Indonesia di mata dunia. Dalam pidatonya di Bandung pada 9 April 1961, Bung Karno mengaitkan olahraga dengan sains dan politik. Ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di panggung internasional setelah sekian lama dijajah.
Visi Bung Karno terlihat dalam pembangunan fasilitas Asian Games di Jakarta pada 1962. Indonesia, sebagai tuan rumah, menjadikan dirinya pusat perhatian Asia dan Afrika.
Kelima, olahraga berfungsi sebagai instrumen solidaritas antarbangsa. Bung Karno menginisiasi penyelenggaraan multi-event olahraga Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta pada 1963, diikuti 51 negara. Ini menjadi simbol perlawanan terhadap imperialisme.
Bung Karno menganggap pernyataan “jangan campur adukkan olahraga dengan politik” sebagai pernyataan politis yang tidak akurat. Semua aspek olahraga, termasuk bendera dan kata-kata, memiliki muatan politik. “Jangan campur adukkan olahraga dengan politik,” ucap Bung Karno, menegaskan bahwa setiap pilihan merupakan bentuk keputusan politik.
Ganefo menjadi simbol solidaritas negara-negara berkembang yang anti-kolonialisme. “Alasan tudjuan daripada Ganefo pertama ini adalah untuk membangun satu dunia baru jang hidup dalam persaudaraan,” tegas Bung Karno.
Membaca kembali pidato-pidato Bung Karno tentang olahraga mengingatkan kita bahwa olahraga selalu terkait dengan pendidikan karakter dan kebijakan negara. Warisan terbesar Soekarno bukan hanya penyelenggaraan Asian Games atau Ganefo, tetapi juga pandangan bahwa olahraga adalah bagian dari perjuangan sejarah.
Di tengah komersialisasi olahraga modern, pemikiran Bung Karno mengajak kita untuk merenungkan tentang bangsa dan dunia yang ingin kita perjuangkan.





