Rusia Luncurkan Rudal Balistik ke Ukraina Setelah Diserang 660 Drone, Ketegangan Memanas!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Rusia mengklaim telah menembak jatuh 660 pesawat tanpa awak (drone) milik Ukraina pada malam 25 Juni 2026. Klaim itu disampaikan melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh otoritas militer Rusia pada Jumat pagi.
Otoritas Kyiv, sebaliknya, melaporkan adanya serangan rudal balistik yang diarahkan ke wilayah ibu kota pada malam yang sama. Pihak berwenang menyatakan warga diminta mencari perlindungan sementara sistem pertahanan udara bekerja.
Klaim Kementerian Pertahanan Rusia
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat dan menghancurkan 660 drone sayap tetap yang “berasal dari Ukraina” sepanjang malam. Pernyataan tersebut merinci wilayah-wilayah tempat drone ditembak jatuh, termasuk sejumlah provinsi dan kawasan pesisir.
Menurut pernyataan itu, lokasi intercept meliputi Belgorod, Bryansk, Kursk, Oryol, Kaluga, Lipetsk, Rostov, Voronezh, Tula, Ryazan, Astrakhan, serta wilayah Moskow, semenanjung Crimea, Laut Hitam, dan Laut Azov. Klaim semacam ini belum dapat diverifikasi secara independen dari pihak ketiga.
Situasi di Kyiv dan respons otoritas setempat
Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi adanya serangan rudal balistik ke ibu kota dan mendesak warga untuk segera berlindung. Ia menegaskan sistem pertahanan udara tengah dioperasikan untuk menanggulangi ancaman tersebut.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, turut mengimbau warga tetap waspada dan mengikuti instruksi perlindungan sipil. Klitschko menyatakan prioritas otoritas saat ini adalah keselamatan penduduk dan koordinasi evakuasi bila diperlukan.
Dampak, verifikasi, dan konteks konflik
Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah drone yang jatuh ataupun dampak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Insiden ini terjadi dalam konteks eskalasi berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina yang sering diwarnai serangan udara, serangan pesisir, dan respons pertahanan yang intens.
Analisis awal para pengamat menyatakan klaim jumlah besar seperti yang dikemukakan Rusia memerlukan pemeriksaan lebih lanjut melalui bukti satelit, rekaman lapangan, dan laporan medis di lokasi. Komunitas internasional secara rutin menyerukan verifikasi fakta dan penghormatan terhadap hukum humaniter dalam konflik bersenjata.
Informasi lebih lanjut menyusul saat otoritas lokal dan lembaga internasional merilis data tambahan guna memastikan akurasi tuntutan militer dan dampaknya terhadap warga sipil.





