Politik

Alutsista RI Makin Diperhitungkan di Kancah Internasional

Jakarta, Maret.id — Filipina telah memesan dua kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) dari PT PAL Indonesia.

Meskipun pasar industri pertahanan Asia Tenggara selama ini didominasi oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Jerman, Korea Selatan, dan China, langkah ini menunjukkan perubahan arah.

“Kini Indonesia mulai memasuki ruang yang sebelumnya sulit ditembus,” kata Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik.

Amir menilai keberhasilan ini merupakan pencapaian strategis karena industri pertahanan berfungsi sebagai instrumen kekuatan nasional.

“Ketika sebuah negara mampu mengekspor kapal perang, yang dijual bukan hanya produk. Ada transfer pengaruh, diplomasi, hubungan jangka panjang, pelatihan personel, dukungan logistik, pemeliharaan, hingga kerja sama intelijen maritim di masa depan,” tutur Amir.

Dia menambahkan bahwa setiap kapal perang yang beroperasi selama puluhan tahun akan membangun hubungan strategis yang berkelanjutan antara produsen dan pengguna.

Keberhasilan PT PAL dalam memperoleh kontrak lanjutan dari Filipina diharapkan bisa dijadikan sebagai tonggak dalam diplomasi pertahanan Indonesia.

Amir juga mencatat bahwa proyek ini memberikan sinyal kuat kepada negara-negara ASEAN lainnya.

Selama ini ada persepsi bahwa kebutuhan alat utama sistem pertahanan (alutsista) modern harus dipenuhi dari negara-negara besar di luar kawasan.

Namun, keberhasilan PT PAL membuktikan bahwa industri pertahanan ASEAN dapat menghasilkan produk dengan standar yang diterima angkatan laut negara lain.

“Ini menjadi contoh konkret bahwa ASEAN sebenarnya memiliki kemampuan membangun kemandirian pertahanan regional. Indonesia dan Filipina menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan intra-ASEAN bukan sekadar slogan politik,” imbuh Amir.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button