Politik

Ritual Adat Jokowi untuk Pencitraan Politik di 2024

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik Nurul Fatta menilai bahwa ritual yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo saat menerima gelar adat merupakan bagian dari upaya membangun citra politik di tengah safari politiknya.

“Setidaknya, ritual yang dilakukan oleh Presiden ke-7 itu merupakan bentuk pencitraan politik di tengah safari politiknya,” kata Nurul Fatta.

Presiden Jokowi menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dalam prosesi yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, pada 27 Juni 2026. Gelar ini diberikan sebagai simbol apresiasi terhadap dedikasi Jokowi selama memimpin Indonesia.

Dalam prosesi tersebut, Jokowi juga menjalani ritual menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah, yang memicu beragam tafsir politik di publik. Penganugerahan gelar adat itu terjadi di tengah safari politik Jokowi di Lampung pada 26–28 Juni 2026, yang menjadi daerah pertama yang dikunjungi dalam rangkaian safari.

Lampung dikenal sebagai provinsi yang identik dengan habitat dan pusat konservasi gajah. Menurut Nurul Fatta, simbol dan prosesi adat tersebut memperkuat narasi politik yang ingin diwujudkan dalam safari Jokowi.

“Agar narasi safari tersebut memiliki makna dan mampu menyisipkan kepentingan PSI sebagai bagian dari isu politik yang sedang berkembang,” kata Fatta.

Namun, ia juga berpendapat bahwa makna politik dari kegiatan itu lebih bersifat strategi komunikasi politik daripada pesan politik yang berdiri sendiri.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button