Akademisi NU: Negara Kehabisan Narasi Akuntabilitas Publik

Jakarta, Maret.id — Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, menegaskan bahwa negara modern harus transparan dalam menjalankan programnya. Ia berpendapat penting untuk menjelaskan sumber pembiayaan, skema pelaksanaan, dan ukuran keberhasilan setiap program kepada masyarakat.
Aras memberikan contoh, “Setelah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan ‘pokoknya ada’ pada festival rakyat di Monas dan ‘Presiden pakai dana pribadi’ pada kunjungan ke luar negeri, sekarang Ketua DPD RI meminta masyarakat menyumbang dana untuk program MBG dengan alasan anggarannya menipis. Ini ironi yang dipertontonkan eksekutif dan DPD RI dalam mengelola keuangan negara,” tegas Aras kepada wartawan.
Ia menekankan bahwa semangat gotong royong seharusnya tidak dikaitkan dengan pembiayaan program strategis nasional yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Ketika gagasan tersebut muncul, komunikasi publik perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi bahwa negara menghindari tanggung jawab fiskalnya,” imbuhnya.
Aras mempertanyakan, “Untuk apa narik pajak rakyat, kalau ujungnya minta nalangin lagi oleh rakyat? Baik eksekutif maupun legislatif terlalu membebani rakyat. Lupa tugasnya, untuk memastikan dan mensejahterakan rakyat.” Ia menilai penting bagi pemerintah dan lembaga negara untuk memperkuat transparansi anggaran melalui publikasi data yang mudah dipahami.
Lebih jauh, Aras menekankan perlunya proyeksi kebutuhan pendanaan yang realistis dan penyampaian informasi yang konsisten. “Kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui besarnya program, tetapi juga kemampuan negara menunjukkan bahwa setiap kebijakan memiliki dasar anggaran yang jelas,” tegasnya.
“Ketika komunikasi publik tidak presisi dan akuntabilitas fiskal dipersepsikan lemah, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pejabat, tetapi legitimasi institusi negara,” imbuh Aras. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pemerintah dalam membangun kepercayaan publik di tengah kritik yang ada.





