Jokowi Injak Kepala Kerbau, Sinyal Perlawanan untuk PDIP

Jakarta, Maret.id — Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam menegaskan bahwa prosesi adat Lampung adalah bagian dari ritual sakral “Pangan Kibau”.
Ritual ini melambangkan pengusiran sifat buruk dan ungkapan rasa syukur, bukan sebuah gerakan politik. Selain itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga meluruskan bahwa lambang partai mereka adalah banteng moncong putih, yang merupakan satwa dilindungi, bukan kerbau atau sapi potong.
“Namun, dalam semiotika politik, publik terlanjur menangkapnya sebagai sinyalemen perlawanan yang sarat simbol,” ujar Saiful. Ia menilai safari politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Lampung bukan lagi sekadar kunjungan rutin, melainkan membawa pesan politik yang kuat di tengah dinamika pasca-pemerintahan.
“Dalam era komunikasi visual sekarang, pesan tidak lagi hanya milik sang pembuatnya, tetapi juga milik audiens yang menafsirkan. Visualisasi Jokowi yang menapak di atas kepala hewan bertanduk itu ditangkap sebagai penegasan kuasa dan nyali politik yang tak lagi mengenal kompromi,” jelas Saiful.
Tafsir yang berkembang mengaitkan simbol kepala kerbau dengan logo PDIP dan banteng moncong putih. PDIP diketahui merupakan partai yang membesarkan nama Jokowi, namun kini mereka berada di jalur politik yang berbeda.
“Publik membaca tindakan simbolis itu sebagai sebuah deklarasi terbuka, pesan bahwa sang ‘anak desa’ kini telah bertransformasi menjadi kekuatan mandiri yang tidak lagi gentar terhadap trah atau kekuatan politik mana pun, termasuk PDIP. Dalam safari politiknya kini dengan atribut Partai Solidaritas Indonesia (PSI), langkah ini seolah menjadi genderang perang terbuka untuk menjungkirbalikkan dominasi lama di daerah-daerah basis massa,” pungkas Saiful.





