Politik

DPC Tuban Diskusikan Relevansi Marhaenisme di Era Ojek Online

Jakarta, Maret.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tuban menyelenggarakan diskusi tentang ideologi untuk memperingati Bulan Bung Karno di halaman Kantor DPC PDIP Tuban, Selasa malam.

Diskusi yang bertajuk “Pemikiran Soekarno dan Relevansinya” ini menggali tiga pilar pemikiran Proklamator dan pidato pembelaan (“Indonesia Menggugat”) yang terkenal pada tahun 1930.

Ony Setiawan, Ketua DPC PDI Perjuangan Tuban yang juga anggota DPRD Jawa Timur, menegaskan bahwa gagasan Bung Karno tentang Marhaenisme, Pancasila, dan Dasasila Bandung masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan geopolitik dan ekonomi modern.

Menurut Ony, kemiskinan dan penindasan fisik di era kolonial kini telah berubah menjadi bentuk neokolonialisme dan neoliberalisme. Hal ini menciptakan ketergantungan ekonomi baru yang merugikan potensi lokal.

“Jika dulu Bung Karno mengidentifikasi kaum Marhaen sebagai petani gurem, nelayan tradisional, atau kusir dokar, maka struktur Marhaen modern hari ini telah bergeser,” kata Ony.

“Mereka adalah pengemudi ojek online, pekerja lepas, buruh kontrak, serta pelaku UMKM yang rentan gulung tikar,” imbuh Ony.

Ony juga menambahkan bahwa esensi dari prinsip Berdikari di abad ke-21 harus diwujudkan melalui kebijakan strategis nasional. Kebijakan tersebut mencakup hilirisasi industri, swasembada pangan, kedaulatan energi, serta penguatan produk domestik untuk menanggulangi dominasi impor.

Di penghujung pemaparannya, Ony menyimpulkan bahwa Marhaenisme seharusnya diposisikan sebagai “pisau analisa.” Alat ini berfungsi memastikan Pancasila tetap menjadi landasan filosofis yang bertujuan menghapus segala bentuk eksploitasi manusia di Indonesia.

Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba kreativitas videografi yang diadakan dalam rangka memperingati Haul Bulan Bung Karno.

Diskusi ini mengundang tanggapan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk akademisi dan tokoh agama.

Sujono Ali Mujahidin, Dosen Universitas Sunan Bonang, memberikan apresiasi terhadap pendekatan dialogis yang diusung dalam diskusi ini. Ia menilai bahwa paparan tersebut berhasil menjadikan Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi sebagai panduan tindakan yang nyata pada sektor informal di Tuban.

Gus Riza Shalihadin Habibi, Pengasuh Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban, menekankan pentingnya internalisasi ideologi secara sistematis namun sederhana agar dapat dipahami oleh generasi muda.

“Jika kader lupa Pancasila, kita kehilangan arah. Jika kader lupa Marhaen, kita akan kehilangan rakyat,” tuturnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button