Widarto: PDIP Bertanggung Jawab Membela Masyarakat Kecil di Jatim

Jakarta, Maret.id — Ketua DPC PDI Perjuangan Jember, Widarto, menegaskan bahwa partainya memiliki tanggung jawab ideologis dan politik untuk membela masyarakat kecil.
Widarto menyatakan, kehadiran partai tidak cukup hanya pada saat pemilu, tetapi harus menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai masalah rakyat. Pernyataan ini disampaikan usai bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z” karya Airlangga Pribadi Kusman dan Rocky Gerung di Aula DPC PDI Perjuangan Jember.
Konsep Marhaen yang diperkenalkan oleh Bung Karno, lanjut Widarto, perlu dimaknai ulang sesuai dengan perkembangan zaman. Saat ini, banyak masyarakat yang kehilangan sarana untuk mempertahankan mata pencaharian mereka.
“Petani sekarang semakin kehilangan alat produksinya. Sawah yang kecil pun akhirnya dijual kepada pengembang,” kata Widarto.
Ia menjelaskan bahwa penjualan lahan pertanian sering kali bukan karena keinginan untuk mendapat keuntungan, melainkan dipicu oleh menurunnya produktivitas. Hal ini, menurutnya, sebagian besar disebabkan oleh terganggunya sistem irigasi akibat pembangunan permukiman.
“Ketika sawah tidak lagi produktif, pilihan yang tersisa sering kali hanya menjualnya,” ujarnya.
Widarto menilai konsep Marhaen juga relevan untuk kelompok masyarakat lain yang memiliki alat kerja, tetapi tetap dalam posisi rentan. Ini dapat dilihat pada pengemudi ojek daring dan pekerja sektor informal yang bergantung pada aset pribadi namun menghadapi tekanan regulasi.
“Partai politik harus mampu menghadirkan solusi untuk masalah struktural yang dihadapi masyarakat,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya menjawab pertanyaan tentang sistem apa yang perlu dibangun untuk mengatasi situasi warga. “Sebelum berbicara soal pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan, kita harus menjawab lebih dulu sistem seperti apa yang ingin dibangun,” katanya.
Sebagai partai yang mengusung ajaran Bung Karno, Widarto menegaskan komitmen PDI Perjuangan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil. “Partai politik seharusnya menjadi menara air, bukan menara gading. Ketika masyarakat kesulitan, partai harus menjadi obor yang memberi jalan keluar,” tegasnya.
Widarto juga mengakui perlunya evaluasi internal untuk organisasi. Ia menyatakan, penting bagi PDI Perjuangan untuk terus berbenah agar mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“Ini menjadi otokritik bagi kami ketika partai belum sepenuhnya mampu menjadi jawaban atas masalah masyarakat,” pungkasnya.





