Perpres 111/2025 Ciptakan Negara Protektif untuk Generasi Muda

Jakarta, Maret.id — Efatha merespons kebijakan pemerintah dengan pendekatan ilmiah dan mengajak semua pihak untuk berdiskusi.
“Saya memahami kekhawatiran mereka. Namun, kita harus membedakan antara orientasi individual dan gerakan politik. Negara tidak pernah menyentuh ranah privat. Yang menjadi perhatian negara adalah advokasi publik dan rekayasa sosial yang mencoba mengubah sistem nilai secara paksa,” kata Efatha kepada media di Jakarta pada Minggu malam, 5 Juli 2026.
Ia menekankan bahwa kebijakan ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki otonomi strategis dalam bidang ideologi dan budaya. “Kita tidak bisa terus-menerus menerima begitu saja paket nilai dari luar. Ini membuktikan bahwa Indonesia adalah agen, bukan objek, dalam percaturan global,” ungkapnya.
Efatha menilai penerbitan Perpres di awal masa pemerintahan adalah langkah yang strategis. “Masa awal pemerintahan adalah saat di mana modal politik seorang pemimpin berada di titik tertinggi. Pak Prabowo menggunakan momen ini untuk meletakkan dasar-dasar kebijakan yang fundamental,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini bukanlah kebijakan populis, melainkan kebijakan visioner yang fokus pada manfaat jangka panjang. “Inilah yang membedakan seorang statesman dengan sekadar politisi. Seorang statesman memikirkan generasi ke generasi,” tegasnya.
Dalam pandangannya, adanya payung hukum ini memungkinkan integrasi kebijakan di berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, dan agama. “Ini bukan lagi urusan salah satu kementerian, ini adalah pendekatan menyeluruh yang komprehensif,” ujarnya.
Efatha kemudian menyampaikan dukungannya dengan penuh semangat. “Saya mendukung kebijakan ini bukan karena saya anti terhadap kelompok mana pun, tetapi karena saya melihat ketulusan niat negara untuk melindungi rakyatnya,” tuturnya.
Ia menegaskan pentingnya mengedepankan pendekatan edukatif, dialogis, dan humanis dalam implementasi kebijakan. “Kita tidak perlu menjadi kasar. Cukup dengan memperkuat pendidikan karakter di sekolah dan memberikan ruang dialog yang sehat,” sambungnya.
Efatha mengajak publik untuk menjaga kebijakan ini dengan kedewasaan dan menyadari tanggung jawab besar untuk menjaga Indonesia. “Terima kasih Pak Prabowo, atas keberanian dan visi yang jernih,” pungkasnya.





