Jokowi Siapkan Rencana Jika Gibran Tak Lagi Dipilih Prabowo

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik Ray Rangkuti menilai langkah tersebut sebagai strategi untuk menjaga posisi politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam jangka pendek dan panjang.
Menurut Rangkuti, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki target jangka panjang untuk memastikan elektabilitas Gibran tetap terjaga di panggung politik nasional menjelang Pemilihan Presiden mendatang. “Ada target jangka pendek dan jangka panjang. Jangka panjangnya memastikan Gibran terus berada di level nasional. Target utamanya tetap bersama dengan Prabowo di pilpres yang akan datang,” tegas Rangkuti.
Namun, ia memprediksi peluang Prabowo Subianto kembali menggandeng Gibran sebagai calon wakil presiden tidak terlalu besar. “Pertanyaannya, apakah Pak Prabowo kelihatan meminang kembali Gibran sebagai calon wakil presiden? Prediksi saya tidak lebih dari 30 persen,” imbuh Rangkuti. Ia menambahkan bahwa Prabowo memiliki banyak alternatif calon wakil presiden yang mungkin direkrut.
Rangkuti juga menyampaikan bahwa Jokowi menyiapkan skenario alternatif jika Gibran tidak kembali dipilih sebagai pendamping Prabowo. “Bilamana Gibran ternyata tidak digandeng oleh Pak Prabowo, artinya Gibran harus naik sendiri, bisa sebagai capres yang bergandengan dengan tokoh lain atau menjadi calon wakil presiden dari tokoh yang lain,” kata Rangkuti.
Ia menekankan bahwa menjaga tingkat elektabilitas Gibran agar tetap tinggi adalah syarat utama dari semua skenario politik yang mungkin ditempuh. “Elektabilitas Gibran itu harus terpelihara. Oleh karena itu sekarang dilakukan safari politik,” ujar Rangkuti.
Selain target jangka panjang, Rangkuti juga melihat adanya kepentingan jangka pendek di balik aktivitas politik Jokowi. Menurutnya, risiko situasi tak terduga yang dapat memengaruhi jalannya pemerintahan hingga 2029 perlu diantisipasi. “Siapa tahu ada sesuatu yang tidak terduga yang berhubungan dengan kekuasaan Pak Prabowo, mungkin karena faktor alam atau faktor politik,” sambung Rangkuti.
Dalam skenario seperti itu, penerimaan publik terhadap Gibran sebagai pengganti Prabowo masih menjadi tantangan. “Jokowi dinilai berkepentingan terus memperkuat legitimasi politik putranya melalui berbagai aktivitas di ruang publik,” tuturnya. “Kalau ada yang mengatakan harus memikirkan kemungkinan Prabowo tidak sampai 2029, maka otomatis di dalamnya juga ada kepentingan untuk mempersiapkan Gibran,” pungkas Rangkuti.





