Puan Kenang KAA Bandung dan Gerakan Nonblok di Depan PM Modi

Jakarta, Maret.id — Dalam sambutannya, Puan Maharani menekankan bahwa hubungan Indonesia dan India memiliki akar sejarah yang panjang dan istimewa, terjalin sejak awal kemerdekaan kedua negara.
Politikus PDIP tersebut mengungkapkan rasa senangnya bisa bertemu kembali dengan Perdana Menteri Narendra Modi setelah pertemuan terakhir mereka pada Konferensi Parlemen P20 di India pada tahun 2023. “Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami untuk menyambut Yang Mulia beserta rombongan delegasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,” ujar Puan.
Ia berharap PM Modi dapat merasakan kehangatan sambutan di Jakarta seperti yang dirasakannya saat berkunjung ke New Delhi beberapa tahun lalu. “Saya berharap, Yang Mulia merasakan hangatnya sambutan kami di Jakarta, sebagaimana hangatnya sambutan yang kami rasakan ketika berkunjung ke New Delhi,” tuturnya.
Puan juga mengingatkan bahwa hubungan kedua negara ini sudah dibangun sejak masa Presiden pertama RI, Soekarno. Ia menyoroti momen bersejarah ketika Soekarno menjadi tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada tahun 1950. “Sejarah mencatat bahwa Presiden Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia yang juga merupakan kakek saya, menjadi tamu kehormatan utama pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada tahun 1950,” ungkap Puan.
Lebih lanjut, ia menyinggung peran Indonesia dan India sebagai penggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 yang melahirkan Semangat Dasasila Bandung dan mendasari Gerakan Nonblok. “Beberapa tahun kemudian, Indonesia dan India bersama-sama menjadi co-sponsor Konferensi Asia-Afrika di Bandung, dan menghidupkan Semangat Dasasila Bandung pada tahun 1955,” sambung Puan.
Puan juga menjelaskan bahwa Gedung DPR, yang menjadi lokasi penyambutan PM Modi, memiliki nilai sejarah penting. Ia menyatakan bahwa bangunan tersebut awalnya direncanakan untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), gagasan Presiden Soekarno untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang di panggung dunia. “Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia,” tegas Puan.





